RSS

Category Archives: Bahasa Indonesia

Awal Mula, Akhirul Kalam

… bukankah pada akhirnya, bahagia yang tak terbatas adalah rasa bahagia melihat orang lain bahagia, meski kita merana?

… bukankah cinta yang tak tertuturkan dalam lisan jauh lebih mengendap dalam pikiran dan perasaan?

… bukankah tindakan yang berlebih hanya akan membuat kita menjejak di ruang semu angkasa?

… bukankah nalar yang tak terasah menuntun kita pada angan tanpa landasan?

… bukankah hati selalu terdiam saat bersirobok dengan orang yang tepat?

… bukankah kisah hidup selalu dimulai dengan tangisan yang berbalut tawa, meskipun diakhiri dengan senyum bijak yang bermakna?

… bukankah waktu pasti membiarkan dan membiasakan kita bertahan hidup?

… bukankah lamunan pasti akan terusik sebelum jatuh menjadi buaian?

… bukankah kita selalu mencari alasan agar berhenti menggunakan akal pikiran?

… bukankah pada awalnya, kita hanya ingin merasa bahagia, apapun itu resikonya?

 
 

Tags: , , , , , ,

Memaafkan Diri Sendiri

Setiap tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal, ada pertanyaan yang selalu mengusik saya: apakah kita sudah memaafkan diri sendiri, sebelum memaafkan orang lain?

Apakah setiap ucapan “maaf lahir batin” yang kita ucapkan ke orang lain adalah pernyataan maaf yang tulus keluar dari hati, dan bukan sekedar basa-basi?
Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Catatan Kecil

Akhir pekan lalu, seusai pesta pernikahan sahabat, saya dan beberapa teman terlibat percakapan menarik.
Di tengah beberapa orang menghapus riasan muka, ganti baju dan sekedar bersantai tengah malam, seorang teman bilang,

“I don’t believe if there’s anyone says “I don’t care about your past, because I only believe in our future!”
To me, when I meet someone, when I make a relationship with someone, I have to know what makes this person who she really is. And a person is defined by her past! I just need to know their past, that’s all. Then I’ll figure out how to deal with that person.”

Kata-kata ini, berikut gaya pengucapan teman saya yang sangat hidup, sudah sukses menyentil saya.
Kebetulan saya pernah menulis sesuatu tentang “investing in your future, rather than dwelling on your past”. Ternyata saya lupa, bahwa bagaimana kita sekarang adalah hasil tempaan masa lalu kita, baik itu mulai dari kecil, remaja, menjadi mahasiswa, atau hasil masa lalu kita dalam hitungan beberapa jam yang lalu.

Saya adalah bentukan mantan-mantan pacar saya.
Selama menjalin hubungan dengan mereka, ada proses belajar dalam diri setiap berinteraksi dengan mereka. Saya merasakan sendiri perubahan dalam bersikap, bertindak, melihat permasalahan, yang sangat mungkin ada sedikit pengaruh atau warisan karakter dari mereka. Mungkin karena itulah saya sempat limbung ketika kehilangan pegangan saat semua hubungan itu berakhir.

Namun saya sadar, bahwa saya tidak boleh mengagungkan masa lalu. Toh mereka yang pernah singgah dan menjadi fokus hari-hari saya tidak akan kembali juga.
Tetapi bagi siapapun yang sedang mencoba hadir, atau akan hadir, mengisi hari-hari dan hati saya, mari kita telaah pelan-pelan.

Saya ada dengan membawa resapan masa lalu saya. Demikian pula dengan kamu.
Semua persamaan dan perbedaan yang ada, mari kita omongkan.
Kalau kamu adalah yang terbaik untuk saya, demikian pula kalau kamu merasakan hal yang sama, maka kita tinggal deal dengan takdir.
Selebihnya, saya lebih suka menjalani apa adanya.

Yang jelas, saya sadar bahwa dalam kehidupan nyata, proses penghapusan memori seperti dalam film Eternal Sunshine of the Spotless Mind tidak akan pernah terjadi.
Rasa sakit, senang, pedih, gembira tentang masa lalu yang hadir dalam kehidupan saya di masa sekarang, semuanya adalah bagian yang tidak mungkin hilang.

Dalam keadaan apapun, saya harus terus bernafas, make a living dan melanjutkan hidup, yang semoga bisa jadi lebih baik.

Saya ingin punya kisah survival saya tersendiri.
Saya bukan teman-teman saya, yang saya kagumi, yang kisah pertahanan hidupnya acap kali membuat saya merasa belum menjadi apa-apa. Untuk itulah saya mengagumi mereka.

Dan untuk itulah saya harus meyakinkan diri bahwa saya akan terus baik-baik saja, meskipun keyakinan itu harus keluar dari mata yang berkaca-kaca dan helaan nafas yang berat.

“Because life goes on, dear.”

 
2 Comments

Posted by on 09/29/2012 in Bahasa Indonesia

 

On the last day of fasting month

Jakarta, 18 Agustus 2012.

Hari ini adalah hari terakhir puasa Ramadhan 1433 Hijriah.

Sebelum tangan ini mulai membuka laptop untuk menulis blog entry ini, tiba-tiba pikiran saya melayang pada awal Ramadhan tiga tahun lalu.
Di hari pertama puasa itu, tanpa saya sadari tiba-tiba saya menangis. Bukan menangis keras dengan jeritan dan sedu sedan, tetapi menangis dengan rembesan air mata pelan-pelan mengalir di pipi tanpa saya sedari, sebelum pelan-pelan terisak lirih.
Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on 08/18/2012 in Bahasa Indonesia

 

Tags: , , , ,

Peas (or my Valentine’s Day post)

Perfection. It is never overrated, for it is something we aim, albeit we can never achieve.

Patience. It is something of a challenge, for it bounds us to limitless options, ones that take us to wonders.

Pamper. It is expected when you are about to call it a day to ensure you have a good night sleep.

Planning. It is not easy, with your unexpected overtime schedule, and my unpredicted work.

Playlist. It is playable anytime you feel like filling the air with the songs I choose for you.

Praying. It is what we often do, especially when each of us start feeling ill.

Please. It is seldom said, but we know that deep down, that’s what we want to do to each other.

Peace. It is felt in silence as we don’t really acknowledge it, not with your constant chattering from A to Z to A again.

Presence. It is getting difficult to have, but let’s not give up.

Present. It is the time I feel happy the most with you around.

Perfect. It is what we are together.

Courtesy of elle.com

 
 

#movieandme – What’s The First Film You Watched in Cinema?

More than any other time in my life, as long as I can remember, last year seemed to be the time I was drawn to filmgoing experience the most.

I can’t explain why. Perhaps it was the constant worry on the dearth of cinema during our ‘cinema-blackout’ period, which I had repeatedly written, the latest being my kaleidoscopic article here.

But beyond the unfortunate incident, somehow it has always been “planted” in me that the best medium to watch film is in cinema.
There is something magical about sitting in a darkened hall, waiting for flickering lights to turn into escapism world of images and words, where we surrender ourselves and reality surround us for a good two hour or so.

If you find those words familiar, that’s because most of the entries in the blog revolve around the topic. In fact, my life does, too. Or so I made it to be.

When I spent my year-end holiday in my hometown, I watched Mission: Impossible – Ghost Protocol in nearby cinema. It was a full-house session, despite no advanced sound system. Yet, the packed crowd shrieked and clenched their fists on their seats altogether when Tom Cruise climbed Burj Khalifa, holding their breaths anticipating the suspense and the thrill of that scene. As I sat on top rows, I could see clearly the collective movement, and it was such a joy, such an unbelievable sight at this time!

I still could not believe my eyes even when I reached home.
And as I looked around my room, tons of VCDs I collected when I was in college were stacked on shelves, collecting thick dust and zero care.
Having nothing to do during the holiday, and being thankful for relatively smooth Internet connection, I thought of VCDs giveaway via Twitter. One cannot live without twitting, right?

Three of five Video CDs (VCDs) for my #movieandme giveaway

Thus, on the last day of 2011, either most people at their utmost relaxing mood or busy preparing for parties later, I asked my timeline:

Do you remember the very first film you watched in cinema?

Using hash-tag #movieandme suddenly answers started pouring in. What supposed to be film title turned out to be recollection of memories: when they watched the film, where (and many cinemas that are no longer present), and with whom they watched the film.
These answers still strike my emotions as I am re-reading them now.

What intrigues me most from this collective memory is how our childhood revolved around cinema, one part or another. Many of us were either going with parents, friends from school or relatives, and the choices, as you can see below, are mind-blowing!
Who would’ve thought that our past cinematic treasure could be this rich?

And look at how diverse the location is! Wherever you spent your childhood, cinema was around to lure you in, and good time was abound.

Guess a saying that goes “everybody must have a certain memory about cinema” is true.

While reading these #movieandme entries, can I ask you: what’s your very first film you watch in cinema?

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

This Is Not A Love Letter

Dearest,

I am writing this letter to you, without a slight of hope that you’ll read it.

Why?

Because you don’t and won’t even know that the letter is intended to you, after all.

You may think that I randomly write words for random beings, as I always do.

“That’s so you,” that’s how you’ve told me all this time.

Within the same amount of time, I’ve always smiled and nodded back at you in acknowledgment.

Within the same amount of time, you’ve always carried on saying other things. They may range from A to Z, but eventually they unveil the same thing: you.

Yes, through the carefully chosen words and long-processed thoughts, you unravel yourself.

It takes time, indeed, to get the meaning of what you’ve said.

For what I realize, I may never know what you mean after all.

Dearest,

That’s what I intend to do.

I want you to come to me revealing your work problems at the end of a hard day’s work.

I can’t promise solutions. I only promise lending my ears and distancing myself away from our smart-phones.

I want you to keep solving the world’s problems, and I’ll take care of the rest.

I want you to be real, because I’ve been living with the idealized version of you in my mind.

I want you to realize that you matter most to one other extra person besides yourself.

I want you to share your silliest jokes, pranks, thoughts, or anything that even you can’t help smiling in saying those.

Because when you smile, we smile.

And I don’t want you to be mine.

You are what you are: the beautiful and beloved you. That’s how I always like about you.

Do you?

 
4 Comments

Posted by on 01/22/2011 in Bahasa Indonesia, Personal

 

talk about love.

ada dari kita yang bertindak sebagai pencinta,
sementara ada dari kita yang bertingkah laku seperti pemberi,
meskipun ada dari kita yang bertindak tanduk bak pencemburu,
walaupun ada dari kita yang berpikir selayaknya pengkhotbah,
selalu ada dari kita yang berkhasiat sebagai pelacur,
kadang juga ada dari kita yang berkhianat seperti penadah,
atau bahkan ada dari kita yang beringas macam penari,
dan ada dari kita yang bertaburan kemilau bintang senyawa langit malam.

masalah cinta, dicintai, mencintai,
satu, dua, tiga obyek percintaan,
tiada, absen, hadirnya rasa bergelembung,
setuju, ragu-ragu, tidak setuju terhadap selingkuh,
apakah itu kissing, making out, channeling affectionate feeling,

towards the next person, the other person, the ourselves,
satu, dua, tiga, jadilah threesome
satu-dua, satu-tiga, dua-tiga,
jangan harap ada satu satu-dua-tiga,

cinta, bosan, statis,
siklus hidup adalah ceria, biasa, ajal,

kenapa cinta harus diujungi dengan duka kalau ia berawal dari suka?

 
Leave a comment

Posted by on 10/25/2005 in Bahasa Indonesia

 

mumblings.

jujur aja, sekarang ini saya lagi miskin yang berasa kaya.

gimana ngga miskin kalo ngga ada pemasukan. duit dari mana? ada sedikit sisa tabungan dan hasil kerja terakhir yang pas buat bayar kebutuhan pokok seperti uang rumah, utang komputer, listrik, air, telpon, dan makan a la kadarnya di hawker centres.
tapi jangan ajak saya pergi makan di restoran sekelas burger king pun, atau mengobrak-abrik cd di gramophone, atau nonton film di akhir pekan, dan juga pergi ke beberapa festival film yang sedang berlangsung. untung saja festival film perancis kali ini tidak memutar “hidden” nya michael haneke, karena kalau saja mereka berani memutar film ini, saya pun berani berhutang mati-matian, kalau perlu ngantri mati-matian di depan counter sistic.

tapi di tengah banyaknya waktu luang saya, ada perasaan bergetar setiap kali saya pergi ke esplanade library, dan melihat tumpukan buku tentang film yang berjejer rapi menjulang tinggi di depan saya yang kecil ini, baik secara fisik ataupun mental. seolah-olah mereka berkata, “come, read me this time”, walaupun tetap untuk urusan screenplay, saya masih ingin menuntaskan semua buku dari syd field sebelum pindah ke pengarang lain. seperti layaknya juga beberapa buku pauline kael, pahlawan kritikus film yang saya hormati karena selalu jujur dalam menulis review tentang film-film yang pantas dia review.

film.

mungkin anda bingung kenapa semua tulisan saya tentang film. jangan khawatir, meminjam penggalan lirik dari seurieus yang terlalu sering digunakan, nauval juga manusia, punya rasa, punya hati. hanya saja, rasa dan hati saya tidak bisa memungkiri bahwa dia suka menonton film, suka menulis tentang film, bahkan tidak malu-malu mengakui bahwa satu-satunya mata kuliah dulu yang rajin saya datangi baik lecture maupun tutorial nya adalah mata kuliah american film.
menariknya, mata kuliah ini adalah mata kuliah pilihan (minor), yang berarti bukan termasuk mata kuliah wajib dari dua jurusan (majors) yang saya ambil waktu kuliah di nus dulu.

dan inilah kecanduan saya yang mulai harus diatasi.

hari-hari saya diisi dengan nonton film lewat dvd yang dipinjam dari esplanade library (sekali lagi, jangan suruh saya pinjam di tempat peminjaman dvd umum seperti videoezy, karena alasan finansial), dan setelah film itu selesai masa putarnya, maka saya akan duduk dan berpikir di depan monitor komputer untuk kemudian mencari informasi tentang film ini, dan memutuskan apakah si film layak untuk dianalisa lebih lanjut.

gila?

sayangnya, obat penyembuh kegilaan ini tidak ada. kalaupun ada, bentuknya hanya berbeda sedikit, yaitu saya tetap menulis, tapi tentang sesuatu yang lain. sekarang ini saya lagi getol menulis tentang acara-acara di singapore yang berkaitan dengan lebaran, karena mau ngga mau, artikel inilah yang bisa saya tawarkan ke media massa.

tapi saya tetap percaya kalau dalam waktu dekat, saya harus menulis tentang film, dan tulisan-tulisan itu harus dipublikasikan ke masyarakat luas. saya tidak mau pernah berpikir apakah pembaca umum mau mengerti, atau bahkan hanya sekedar untuk membaca, karena itulah kepuasan saya pribadi.

jaman ini banyak kompromi, susah sekali mencari kesenangan diri.

 
Leave a comment

Posted by on 10/21/2005 in Bahasa Indonesia

 

blunders.

dulu, jaman es-em-a waktu saya sering ikut lomba-lomba sejenis cerdas cermat (and looking back now, i realized that i was some kind of freaking nerd!), guru-guru yang ngelatih saya selalu mastiin kalau saya dan temen-temen satu tim harus tenang waktu babak adu cepat. kenapa? kata mereka, kalau bikin satu kesalahan dalam situasi yang dikejar-kejar waktu seperti itu, maka kita akan cenderung melakukan banyak kesalahan lagi di soal-soal berikutnya, karena kita pikir kalo kita bakal dapetin nilai lebih banyak untuk mengurangi pengurangan nilai dari soal yang salah tadi.

dulu, saya ngga percaya, sampai pada akhirnya dalam satu kesempatan, hal itu benar-benar terjadi. walaupun begitu, juara ketiga akhirnya didapetin juga koq.

menginjak sedikit dewasa seperti sekarang ini, dalam hidup yang berasa berlalu cepat walaupun saya ngga dengan sengaja mengejar waktu, saya merasa semakin sering melakukan hal yang pernah saya lakukan di cerdas cermat itu: membuat kesalahan demi kesalahan yang dipicu dari satu langkah yang semestinya tidak diambil.
yang lebih parahnya, beberapa tahun terakhir ini saya seperti tersadar juga oleh sesuatu yang lain.
ketika saya sedang melakukan kesalahan dan bingung berikut menyesali kesalahan itu, maka selain melakukan kesalahan lain, saya pun akan bingung dan menyesali perbuatan-perbuatan lain yang mungkin sudah dilakukan di masa lalu, atau hal-hal yang sudah sedemikian lamanya tersimpan dalam hati, namun tidak pernah dikeluarkan sebelumnya.

blunders after blunders, mistakes after mistakes.

makanya, banyak orang bilang supaya berhati-hati ketika kita marah, karena kata-kata yang keluar dari mulut kita ketika marah bisa jadi adalah ungkapan perasaan yang sudah terpendam sekian lama dalam hati atau pikiran, dan ketika ada dorongan yang kuat dimana seluruh otot syaraf terkuras, maka pemikiran-pemikiran tersembunyi itu pun berhamburan keluar.

kalau anda pikir ini adalah tulisan biasa yang cenderung ikut-ikutan sejuta pesan massal menjelang bulan suci ramadhan, mungkin ada relevansi nya juga disana-sini. toh masalah interpretasi bukan hak saya untuk mengatur.
seperti layaknya tulisan lain, ini adalah sekedar ketikan jari tangan saya yang merefleksikan sedikit penyesalan atas begitu banyaknya kesalahan yang saya buat akhir-akhir ini, yang membuat banyak pihak merasa terabaikan, tersinggung, dan mungkin terhina.

saya minta maaf kalau saya pernah menyakiti. kalau tidak pernah pun, saya tetap minta maaf karena saya tahu bahwa saya tidak pernah dengan jelas mengungkapkan apa maksud saya bertindak tanduk seperti ini.

ah, tulisan ini juga tidak terlalu jelas 🙂

tapi ini pelajaran buat saya, dan semoga anda juga, bahwa pikiran yang terarah dan teratur dalam mengungkapkan perasaan adalah suatu anugerah Tuhan yang tidak gampang diraih, karena perlu begitu banyak waktu untuk terus berlatih.

 
Leave a comment

Posted by on 10/04/2005 in Bahasa Indonesia

 

who’s checking?

Day 1 – Monday

INT. MEDIACORP TV THEATRE. NIGHT.

We see Nauval and Ayu seated on the corner. The taping of Anugerah 2005 was on recess. They were just staring at FAILED COMEDIANS on the stage trying to cheer audience up.
Suddenly …

AN UNKNOWN LAD IN ORANGE walked up to the stairs next to their seats, and while he was walking, he threw a look at them.

Nauval and Ayu exchanged glances.

AYU:
Elo tadi ngeliat ‘kan?

NAUVAL:
Yoi!

They laughed.

AYU:
Huhuhuhuh … Senengnya, dia check me out.

NAUVAL:
Ga banget, gue kali!

AYU:
Gue!

NAUVAL:
Gue!

AYU:
Gue!

NAUVAL:
Gue!

AYU:
Gue!

NAUVAL:
Gue!

Pause for laugh, desperately.

AYU:
Ya udah lah, check us out lho, check US out …

NAUVAL:
Hihihihihi … Boleh lah!

Day 2 – Saturday

EXT. LUCKY PLAZA. NIGHT.

We see Ayu, Messa and Nauval were about to enter the building.

MESSA:
Eh gue dah denger tuh cerita kalian. Ckckckck …

NAUVAL:
Cerita apaan?

AYU:
Huehehehehe, si Messa gue ceritain pas Senen kemaren ituuuu …

NAUVAL:
Wekekekekekeke … Yang mana nih? Si baju oranye apa yang nonton acara gratisan, pulang bawa kontestan?

AYU:
Ya semuanya lah!

NAUVAL:
Ahuhuhuhuhuhu …

MESSA:
Iya, tapi kalo dia udah check out Nauval duluan, berarti elo ga ada peluang dong.

NAUVAL:
Yoi, Mes!

AYU:
Eh ya ngga dong, enak aja.

NAUVAL:
Ya bener dong, babe. Maksudnya Messa ginih. Kalo dia check me out duluan, berarti elo ga ada peluang dong. Tapi kalo pun dia check you out, belum berarti gue ngga ada peluang, itu masih bisa.

MESSA:
Setuju!

AYU:
Kurang ajar! Market elo lebih gede dong kalo gitu? Ga bisaaaaa!

Messa and Nauval laughed.

 
Leave a comment

Posted by on 08/07/2005 in Bahasa Indonesia

 

just some blabbering :)

Beberapa hari yang lalu, gue denger dialog ini:

Nyokap si cowok : “Lha iya, enaknya mo gimana ini, udah tinggal besok disini.”
Bokap si cowok : “Yo wis tho, hari ini dipuas-puasin jalan-jalannya”
Cewek : “Iya nih tante, liat aja deh, besok si X bakal diem-diem nangis ditinggal mamanya. Dah gede gini masih gembeng oom, tapi ga mau keliatan nangis. Kangen ama mamanya ntar” (ke cowok) “Jangan nangis ya, sayang …”

Dan walaupun gue ngga menyaksikan langsung ekspresi mereka, tapi yang gue pengen tau adalah gimana perasaan orang tua si cowok, terutama sang nyokap, yang harus ketinggalan berbagai perubahan dalam hidup anaknya, dan tinggal menyaksikan hasil jadi dari perubahan itu. Berubah, karena mungkin sang nyokap ngeliat betapa perhatiannya si pacar terhadap putranya itu, kaya udah ada yang ngurusin hidupnya sekarang, dan itu bukan tugas si nyokap lagi. Berubah ‘kan?

Bingung? Kenapa musti bingung?

Sebenernya emang bukan hal yang aneh waktu begitu kita lepas dari SMA/SMU, sebagian dari kita udah mulai kuliah di luar kota atau luar negeri, yang berarti belajar idup sendiri dengan cara ngekos ato ngontrak tempat tinggal. Nah, disaat pisah dari orang tua inilah benernya kita mulai ngebangun diri kita sendiri mulai dari awal lagi. Apa-apa aja yang dulu pernah kita kerjain sebelum tinggal sendiri, memang ga bakal pernah ilang, lha wong kesimpen di memori otak. Some say our childhood memories will serve as a platform for our adulthood upbringing. As much as this statement is open to argument, I’d still take it as something in grey are requiring more scientific evidence strong enough to validate this. Lha wong pas jaman SMA aja udah banyak yang ngecap gue bi-goss, sekarang … errrr … koq gue menjebak diri gue sendiri sih! 😀

Anyway, yang gue pengen tau disini adalah seberapa siap sih orangtua ngelepas anaknya ke ‘kehidupan lain’, ato mungkin ke kehidupan masa depan anak itu sendiri?

Terus terang aja gue belum bisa jawab pertanyaan ini karena belum ada satupun saudara kandung gue yang menikah, jadi gue belum bisa ngeliat gimana reaksi ekspresi orang tua gue ketika harus ngelepas salah satu dari kita untuk menjadi pasangan hidup orang lain. Sialnya lagi, sudah sekitar 6 tahun terakhir ini, gue ngga pernah dateng acara kawinan satu pun! Percaya ga percaya, gue belum pernah dateng satu pun kawinan temen SMA gue, huhuhuhuh … Kalo kalian baca ini, maafkanlah, dan … Salam Mitreka! 😀
Begitu juga dengan kawinan sodara-sodara sendiri, ga pernah ada yang gue datengin selama lebih dari separo dekade ini, jadi memori tentang reaksi para oom dan tante gue sebatas apa yang gue inget sampe jaman SMA dulu.

Sebagian besar dari para oom dan tante yang notabene adalah para orangtua dari sodara sepupu gue itu bersikap biasa aja, pasrah, dan menerima anak mereka ngejalanin hidup dengan pacar mereka yang naik status sebagai suami/istri itu sebagai bagian dari perjalanan hidup. Seperti layaknya juga dengan apa yang terjadi setelah pernikahan, be it giving birth to their children, perceraian, kawin lagi, kematian, and many other catastrophes.
Mungkin ada sedikit perasaan berat yang ga pernah keungkap. Mungkin ada sedikit konflik, lahir ato batin, yang terjadi sebelum proses serah terima itu (emang lagi jual rumah bo?!). Dan mungkin karena udah begitu pasrahnya, jadi nrimo aja dengan segala hal yang udah berubah dalam hidup.

Life is a rollercoaster ride, it ain’t fun if it ain’t change from up to down, forming a full circle.

Dan seperti biasa, tulisan tak berujung tak berpangkal ini cuman sedikit ngomongin ketakjuban gue ama the changing of us. Itu aja koq 😉

 
Leave a comment

Posted by on 07/15/2005 in Bahasa Indonesia

 

AA (Audiogalaxy Addict)

“Hi. My name is Nauval, and I’m an addict.”
(choir-like voice) “Hhhiiiiiii Nnnaaauuuvvaaaalllll …!”

Tau kan, kalo misalnya kita nonton pelem-pelem tentang orang-orang yang dimasukin di rehabilitasi ketergantungan alkohol ato drugs, pasti ada satu adegan counselling dimana mereka dikumpulin dalam satu ruangan, biasanya melingkar nih duduknya, trus begitu ada satu orang yang ngomong, dia bakal nyebut nama dan kenapa dia ada di rehab itu:

“Hi. My name is Nauval, and I’m an alcoholic” (getok meja kayu 3x, lha wong paling banter gue mabuk duren doang bisanya).

Dan ntar semua orang pada ngejawab serempak dengan suara dan ekspresi datar:

“Hi Nauval!”

Trus mulailah segala macem cerita ato curhatan mereka yang kadang-kadang suka ngasal, tapi berhubung namanya juga bagian dari proses penyembuhan, kayanya emang suka dibiarin aja.

Dan kalo sekarang gue mulai postingan ini dengan gaya seperti itu, karena gue memang mau bikin pengakuan alias confession:

I was mp3s addict.

Boong. I was an addict of downloading mp3s.

Boong lagi ding.

I was an Audiogalaxy addict! Huahahahahahahaha!

Ayo semua, inget-inget lagi bahwa sekitar 4-5 taun yang lalu ada satu software pengganti Napster buat tuker-tukeran (aduh bahasanya sopan banget, Pal!) koleksi mp3. Dan yang lebih canggih lagi, di Audiogalaxy ini kita bisa bikin group2 komunitas ga jelas, bisa ngobrol alias chatting ama sesama anggota group selama kita download mp3 files, oooohhhh … indahnya duniaaaa!

Terus terang aja, bahwa dari pagi sampe sore gue sanggup duduk depan komputer nangkringin Audiogalaxy ini yang kecepatannya masih hebat juga walaupun buat ukuran sekarang, dan karena gue dulu banyak ikutan groups disini, jadi ngga kerasa juga sambil ngobrol-ngobrol, eh tau-tau koleksi satu album PMR udah lengkap.

Personally, pas ikut Audiogalaxy ini, gue berasa pengetahuan musik gue bisa nambah, in terms of quality and quantity. Jadi ngga cuman kaya PMR itu, tapi inilah jamannya gue bisa dapetin exposure musik dari Bach sampe Thelonious Monk sampe Ellya Kadham dan tentunyaaaaa … Jamal Mirdad!

Begini ya sodara-sodara. Harap maklumilah kami para perantau yang tinggal jauh dari kampung halaman sering membuat kangen akan lagu-lagu Indonesia, dan secara nyari lagu Indonesia itu susah nya minta ampun (gue dapet lagunya Irma June yang “Bila” aja nunggu 1 taun!), jadi lagu apa aja diembat dong, termasuk tentunya “Memori Daun Pisang” nya Amelina dan Iwan. Yang sering karaoke dangdut pasti familiar koq *Irvan, ga usah ngibrit* :p

Yang lebih penting lagi, disinilah kisah gue dengan seorang ibu muda berambut megaloman bernama Karmela dimulai.

Hayo Mel, ngaku! Secara elo ga pernah ganti komputer kaya gue, berarti koleksi lagu mp3 elo dah banyak naujubilah kan? Well, to tell the truth Mel, walaupun jaman itu gue masih pake almarhum laptop lama gue yang kapasitas hard disk nya kecil, tapi gue tidak lupa untuk selalu back-up alias bakar-bakar cd, jadi memang alhamdulillah, semua lagu gue selamat, Mel!

Dasar ketauan addict nya gue, giliran mp3 aja diselametin, tapi data-data penting langsung wassalam! Huahahahaha!

Pertemanan gue dengan ibu muda satu ini emang diawali dari tuker-tukeran lagu di Audiogalaxy tercinta ini, sampe akhirnya seru ikutan ngobrolin dan bikin group-group gila ga jelas. Aduh Mel, inget masa ini berarti gue teringat masa-masa kuliah gue dimana gue bisa dengan leluasanya masak makan siang gue, elo nelpon gue pas yang gue goreng krupuk lah, ato kalo engga bikin ayam asam manis lah, huhuhuhuhu … Tak terasa beratku melambung sampe 71 kg waktu itu, hohohoho!

Jadi mau tuker lagu-lagu apa aja nih kita, Mel? 😉

updated: gue nyari lagunya Andi Meriem Matalatta yang “Lenggak Lenggok Jakarta”, ada yang punya?

 
Leave a comment

Posted by on 06/27/2005 in Bahasa Indonesia

 

Lenggang Puspita

(gara-gara si sayid dah mulai nyari2 koreografi buat acara IAF nanti, secara ga sengaja gue mulai dengerin lagu-lagu yang cocok buat konsep musikal kita ini, dan akhirnya setelah ubek2 koleksi cd mp3 hasil download-an selama kuliah *Mela, sesama mantan AudioGalaxy addict dilarang saling nyela! :D*, akhirnya nemu juga lagu ini … Lenggang Puspita by Achmad Albar!

kebayang ga kalo Achmad Albar sebelum gabung ama God Bless dan merit ama Rini Subono, sebelum akhirnya cerai, adalah seorang artis Swara Mahardika yang entah pas jaman 70-an apa namanya dah SM. dan lucu juga ngebayangin pak rocker ini juga nyanyi lagu dangdut Zakia *aduh, punya gue ilang! help!*, trus maen pelem Si Doel Anak Modern bareng (alm.) Benyamin S. ama Christine Hakim. not bad acting loh! lucu aja ngeliat kribo-nya dulu lebih gede dibanding sekarang, hihihihihi … aduh Rio, Pram, Agus, gue ngga bermaksud mengambil mahkota ketuwiran kalian koq dengan tau dikit2 ilmu pengetahuan populer tahun 70-an ini , hohohohoho!

ya udah, enjoy lagu ini deh, gue dah mulai goyang pagi2 gini sebelum ntar latian *khusyu’ ngapalin script* :D)

Jalan berlenggang lenggok gemulai
Langkah nan anggun tinggi semampai
Diantara rerumpunan bambu
Kudengar derai tawamu

Wajah berbinar-binar ceria
Senyum manis menghiasi senja
Diantara bunga-bunga rindu
Kucium harum nafasmu

Oh dara
Kemana kau pergi melangkah
Juwita
Tahukah kau hatiku resah
Oh dara
Mengapa kau terus melangkah
Juwita
Mengapa ku tak berdaya

 
4 Comments

Posted by on 06/25/2005 in Bahasa Indonesia

 

Jump!

Jump!

Jump! Jump!
You jump, I … watch you jump!
Dah ga jaman hari gini ngomong “you jump, i jump” ah! *sambil muna ga mau ngaku kalo nonton pelem Titanic 3x, hihihihi*

Anyway, gue cuman pengen berheran-heran aja ama diri gue sendiri, yang udah terjadi beberapa hari belakangan ini. Simple aja, gue ngerasa jump improperly to live in a big city.

Improperly? More like unorganized, actually.

You see, dari kecil sampe gede, gue lahir dan dibesarin di Malang, kota yang udah ngga dingin lagi, yang menghasilkan beberapa selebritis yang benernya ngga pantes disebut disini macem Cindy Fatika Sari (idih!) ato Krisdayanti (walopun dia ngga di Malang persis), tapi yang lebih penting lagi, beberapa seleb-blogger yang pantes disebut disini macem Qyu, Bowo, dan tentunya, -nauval himself- dong ah!

Dan harus gue akuin, bagaimanapun juga Malang ini kota kecil, meskipun sempet gue kekeuh sumekeh kalo Malang itu kota besar, karena kalo dapet Adipura, selalu dapet kategori untuk kota besar. Ngomong-ngomong, masih ada kah penghargaan Adipura buat kebersihan kota ini?

Sampe ketika kuliah pun dah nyaris mengabdikan seumur hidup di Malang, tiba-tiba aja koq dapet kesempatan lepas dari kota apel ke kota Singa (Singapore toh negara kota ‘kan?), dan disinilah gue dah mengabdikan diri gue selama 5,5 taun dari mulai kuliah sampe kerja sekarang.

Separuh dekade.

Serem juga kalo dipikirin angka itu.

Makin serem kalo ngeliat bahwa benernya gue ngerasa ada satu bagian yang “kurang” karena gue ngga ngelewatin satu filter yang entah penting ato engga: tinggal di kota besar, di negeri sendiri.

Yup, gue ngga pernah tinggal lama sampe menetap di Jakarta. Paling banter 2 bulan, itu juga lebih banyak di rumah, di Bekasi.
Dan begitu gue tinggal di kota besar, itungannya udah negara lain.

Gegar budaya yang gue rasakan, untungnya sih, ngga se-shock seseorang yang langsung masuk sini dan bekerja, karena gue melalui proses belajar dan hidup di lingkungan kampus, yang notabene bukan representatif bagus buat ngeliat ukuran hidup seseorang di suatu negara karena atmosfirnya kan academic-oriented yang cenderung all-provided, but it’s better than nothing though.

Justru gegar budaya yang gue rasakan adalah tiap kali gue ke Jakarta, karena bagaimanapun juga, gue selalu melihat Jakarta dari sudut pandang ‘orang kampung’ ato ‘orang udik’ yang masih kebingungan dan ecstatic ngeliat bright, blinding lights of the city.
Sementara itu, Singapore adalah tempat kenyamanan dan kemapanan gue. Kemapanan disini bukan berarti gue financially rich or whatsoever (komputer aja masih ngutang!), tapi lebih kepada behavioral settlement, ato dalam kata lain, the minute I step my feet onto Changi Airport, I know my way to get to my home without troubling anyone, I know how to feed myself without begging on the street and I know how to eat to live.

Hmmm … Postingan ini emang agak absurd, ga kaya biasa-biasanya, tapi yang jelas, gue semakin memaknai kata-kata klise ini:

Look before you leap.

 
1 Comment

Posted by on 06/03/2005 in Bahasa Indonesia