RSS

blunders.

04 Oct

dulu, jaman es-em-a waktu saya sering ikut lomba-lomba sejenis cerdas cermat (and looking back now, i realized that i was some kind of freaking nerd!), guru-guru yang ngelatih saya selalu mastiin kalau saya dan temen-temen satu tim harus tenang waktu babak adu cepat. kenapa? kata mereka, kalau bikin satu kesalahan dalam situasi yang dikejar-kejar waktu seperti itu, maka kita akan cenderung melakukan banyak kesalahan lagi di soal-soal berikutnya, karena kita pikir kalo kita bakal dapetin nilai lebih banyak untuk mengurangi pengurangan nilai dari soal yang salah tadi.

dulu, saya ngga percaya, sampai pada akhirnya dalam satu kesempatan, hal itu benar-benar terjadi. walaupun begitu, juara ketiga akhirnya didapetin juga koq.

menginjak sedikit dewasa seperti sekarang ini, dalam hidup yang berasa berlalu cepat walaupun saya ngga dengan sengaja mengejar waktu, saya merasa semakin sering melakukan hal yang pernah saya lakukan di cerdas cermat itu: membuat kesalahan demi kesalahan yang dipicu dari satu langkah yang semestinya tidak diambil.
yang lebih parahnya, beberapa tahun terakhir ini saya seperti tersadar juga oleh sesuatu yang lain.
ketika saya sedang melakukan kesalahan dan bingung berikut menyesali kesalahan itu, maka selain melakukan kesalahan lain, saya pun akan bingung dan menyesali perbuatan-perbuatan lain yang mungkin sudah dilakukan di masa lalu, atau hal-hal yang sudah sedemikian lamanya tersimpan dalam hati, namun tidak pernah dikeluarkan sebelumnya.

blunders after blunders, mistakes after mistakes.

makanya, banyak orang bilang supaya berhati-hati ketika kita marah, karena kata-kata yang keluar dari mulut kita ketika marah bisa jadi adalah ungkapan perasaan yang sudah terpendam sekian lama dalam hati atau pikiran, dan ketika ada dorongan yang kuat dimana seluruh otot syaraf terkuras, maka pemikiran-pemikiran tersembunyi itu pun berhamburan keluar.

kalau anda pikir ini adalah tulisan biasa yang cenderung ikut-ikutan sejuta pesan massal menjelang bulan suci ramadhan, mungkin ada relevansi nya juga disana-sini. toh masalah interpretasi bukan hak saya untuk mengatur.
seperti layaknya tulisan lain, ini adalah sekedar ketikan jari tangan saya yang merefleksikan sedikit penyesalan atas begitu banyaknya kesalahan yang saya buat akhir-akhir ini, yang membuat banyak pihak merasa terabaikan, tersinggung, dan mungkin terhina.

saya minta maaf kalau saya pernah menyakiti. kalau tidak pernah pun, saya tetap minta maaf karena saya tahu bahwa saya tidak pernah dengan jelas mengungkapkan apa maksud saya bertindak tanduk seperti ini.

ah, tulisan ini juga tidak terlalu jelas 🙂

tapi ini pelajaran buat saya, dan semoga anda juga, bahwa pikiran yang terarah dan teratur dalam mengungkapkan perasaan adalah suatu anugerah Tuhan yang tidak gampang diraih, karena perlu begitu banyak waktu untuk terus berlatih.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 10/04/2005 in Bahasa Indonesia

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: