RSS

Monthly Archives: December 2004

This!

 
Leave a comment

Posted by on 12/30/2004 in Bahasa Indonesia

 

One. Some.



Kamu!



Ya, kamu!



Yang liat dan baca tulisan ini!



Kamu yang harusnya disini,

buat aku meraung-raung

di tengah segala penat, lelah, kesal dan …



Semua kebutekan dan kesumpekan yang udah memuncak!



Kapan kamu pernah hadir?



Capek dan bosan

Tiap malam hanya bantal guling empuk itu

Yang jadi sasaran tinjuku



Sesekali mau yang hidup layaknya kamu

Biar bisa kuucek-ucek rambut hitam itu

Sekedar kukecup kening dan pelipis

Melingkarkan tanganmu untuk mendekapku

Agar ketika ku terjaga dari mimpi-mimpi buruk itu

Ada kamu yang mengusap dan mengajak tidur lagi …



Dimana aku bisa ikut menangis melihat Aceh porak poranda

Dimana kamu bisa dengan semena-mena meminta

Agar aku gak pecicilan

Atau keganjenan



Emang pernah?!



I wish!



Kumaki, kucaci

Kutinju, kupeluk

Kudekap, kucium

Kucuekin, kutelpon

Kusuapin, kubiarin nunggu.



Aku egois.

— a season has walked on by / yet your shadow remains / traceable in every sense / to survive is to remember / that facial thing / linking all my pains —


 
Leave a comment

Posted by on 12/30/2004 in Bahasa Indonesia

 

Let’s Write!



Alhamdulillah buat para inventor blog ini, karena bisa cuap-cuap di tengah keramaian dunia maya.

Mau didengerin atau ngga, itu urusan belakangan, karena yang penting dengerin kata hati dulu tho?!

Tapi kalo kata hati berasa mati, apa yang mau ditulis?

Dan inilah yang menjadi kendala salah seorang blogger yang ngga mau disebutin nama dan blognya, karena ingin merahasiakan identitasnya sebagai seorang Batak asli Jakarta yang lancar ngomong bahasa Sunda dan lagi terpukau melihat kebohay-an dan kelumay-an aset tubuh beberapa rekan kerjanya yang selalu membuat dirinya tersenyum mesum di tengah siap-siap meeting (!!!), dimana dia ngerasa sudah mati hati ngga ada intuisi buat maenin keyboard sekedar orat-oret beberapa kata di papan putih blogspotnya.



Nah, padahal dari situ udah ada kan bahan tulisan yang bisa diumbar dan diungkapkan, sampe kadang di tengah hectic atmosphere of work namun pasang MSN Messenger masih jadi kewajiban ini perlu dikasih hint bahwa:

+ Lah, ini elo lagi ngobrol ama gue, elo kan MENULIS

– Tapi kan ngga sama, Pal

+ Haduh, elo cut paste aja lah omongan kita!

– Tetep laen rasanya



Untunglah dia udah mulai bangkit dari mati suri, apalagi Natal ini dia pulang ke ranah tempat sanak saudaranya di bilangan Jakarta Pusat, pasti banyak cerita, kalaupun ngga banyak, paling ngga saya akan tetep diem, apalagi kalo udah disogok pake setoples bawang goreng.



Bahkan Acay yang seatap rumah dengan saya pun sampai perlu nulis kuburan sendiri di blognya, kematian menulisnya sampe perlu dikeramatkan karena kematian menulisnya berarti sama matinya dengan tidak ada bacotan Jawa yang menghiasi indra pendengaran saya tiap harinya sambil rebutan jatah nyuci, tempat jemuran, giliran mandi …



Apa yang bikin kita susah nulis?



“Ngga ada bakat”.



Oh ya? Rasanya koq susah diterima akal, apalagi buat para kaum urban yang notabene menghabiskan waktu di tempat kerja, apapun itu, dengan menulis memo atau email yang berhubungan dengan kerjaan, mencatat pesanan, rumpi-rumpi berbumbu diskusi dan gosip di Yahoo Messenger, maupun sekedar nulis SMS buat janjian ketemu atau selingkuh.

Bukankah blog ini adalah lahan lapang punya kita dimana tempat kita bebas menuliskan apa pun yang kita mau? Apa pun itu, sampe ucapan terima kasih atas penulisan skripsi di blognya Barrie yang membuat saya pengen membujuk dia buat nulisin satu skripsi di blognya, lha wong saya ga pernah ngerasain nulis skripsi itu gimana!



“Ngga ada waktu”



Maklum lah kalo yang ini, kadang waktu 24 jam itu pengennya diulur jadi 26, 28, 30 … alah, ngga pernah puas ntar!Apalagi dengan gaya hidup orang kota seperti saya yang pulang kantor jarang sekali langsung pulang ke rumah kalo ngga inget ada utang setrikaan seminggu ato utang nonton DVD yang musti dikembaliin ke Esplanade Library kalo ngga mau kena denda $1/ hari.



Atau mungkin kesibukan kerja yang mengharuskan kerja romusha (in disguise lho!) seperti mas Rio yang sering dikira orang mirip anggota F4 walopun jiwa Soneta Group ini.

Sambil mencuri-curi waktu di tengah kerjaan numpuk, beberapa kali terungkap di tengah curhatan panjangnya (curhat panjang, sodara-sodara, ngakunya kerja! hihihihi) kalo dia udah punya banyak ide tulisan yang mau dia publikasiin di blognya yang jadi arena ngumpul sejuta umat bloggers di dunia ini, layaknya juga blog mas Wisa yang lebih terkenal sebagai tempat chatting daripada update-an postingan, sampe dia perlu ngerasa nutup si blog buat sementara waktu!



Tapi rasanya waktu pun menjadi sesuatu yang perlu dipertanyakan, setelah kemarin sore, dalam suatu kesempatan langka nan ajaib, ada user manggil saya di YM dengan nick Ve, si manusia sibuk di dunia perfilman, dimana pas saya buka blognya, oh la la! Sejuta postingan baru yang mempertegas daya kreatifnya, semuanya bukan tulisan sembarangan, namun udah ngelewatin proses mikir cukup dalem kayanya (kaya’nya lho, Ve! Hahahaha!), padahal sungguh-sungguh waktu luang sepertinya jadi barang antik buat dia.



Ngga seperti saya memang yang asal bacot nulis ga mikir pokoknya asal maenin jari-jari diatas keyboard sebagai pelampiasan ngga pernah bisa maen piano, sehingga kadang sim salabim! Lima menit sebelum berangkat interview kerja pun pernah terjadi suatu tulisan dengan kualitas yang patut dipertanyakan, hahahaha!



“Ngga punya komputer sendiri”



WARNET! INTERNET CYBER CAFE!



“Ngga ada ide”



Kebetulan alam lahiriah membentuk saya sebagai orang bacot dalam tulisan dan lisan dimana akhirnya sering terjadi konslet antara otak dan mulut (dan tangan) karena apa yang udah terbentuk di kepala harus ngantri panjang di syaraf sebelum keluar dari bibir ditandai dengan banyaknya filial words kaya’ “eeerrmmm” ato “eeerrr” ato “hmmmm” ato “eeeeeyyyy” ato pause lama.



Jadinya memang saya suka ngomentarin apa yang ada di sekitar penglihatan mata dan pendengaran, itulah kenapa meskipun ngiler tergoda ama barang-barang MP3 Player macem keluaran Creative ato iPod, tetep ngga bisa jadi barang yang harus saya beli, ngga biasa nutup kuping kalo pas lagi jalan, serasa terisolasi dari dunia luar, padahal saya seneng dengerin suara-suara lalu lintas ramai kalo lagi nyebrang deket City Hall, ataupun suasana konstruksi mesin di Nicoll Highway misalnya. Cukup lah saya mengisolasi diri dengan baca buku, majalah sampe leaflet kalo naek bis ato MRT sendiri.



Kebacotan ini juga yang bikin gawat karena mengakibatkan ketidaksabaran saya kalo bertemu dengan orang yang udah lama kenal dan akrab (bukan yang baru kenal lho!), dan terlibat percakapan seperti:



+ Eh gila, pa kabar elo?

– Gini-gini aja koq, ngga ada yang bisa diceritain

+ Duh, masa sih? Bukannya waktu itu elo pergi ke Langkawi pas long weekend? Gila, bukannya musim hujan gini loh, monsoon, bete dong elo di kamar hotel doang, bla bla bla …



(interupsi: barusan liat Sayid goyang ngebor udah cukup bikin gue feeling dizzy and distracted, kalo ngga mau dibilang, ilfil! hihihihi)



Terus terang Philips terang terus, balik lagi ke tujuan orang bikin blog.



Mau nulis apa?



Beberapa blog hasil temuan dari blog-hopping memang terlihat jelas, seperti blog puitis dari mbakyu Ken ini yang menorehkan kata-kata indah bermakna yang sering jadi acuan saya untuk coba-coba bikin puisi.

Atau sekedar celotehan jenaka dari si teteh Karmela yang udah kenal 3-4 taun tapi ngga pernah ketemu walopun sama-sama satu pulau, atau review album seperti blognya Eko, the walking encyclopedia of music, atau sekedar tulisan lirik lagu yang sempet bikin saya kecele karena dikira puisi di blognya Rivaldi, atau catatan perjalanan seperti Azmin si murah senyum dan juga petualangan Luigi di benua lain, atau sekedar jadi diary selayaknya yang dipunyai banyak bloggers.



Jadi, sebelum diprotes ama Endang yang sering mencak-mencak karena kepanjangan isi tulisan, lebih baek saya sudahi dulu meskipun masih banyak ide bermain on both sides of my tiny little brain.



Sekarang?



Buka dashboard blog.

Click Create New Post dong.



Jari-jari udah di atas keyboard?



Apa yang kamu liat?



Tembok putih?

Tembok putih.



Bersih?

Lumayan.



Koq lumayan?

Abis masih ada kotoran nempel.



Ih pasti yang punya warnet jarang bersiin!

Kayanya gitu sih, abis warnet ini kan buka 24 jam, udah gitu rame lagi, mana sempet yang jaga warnet bersiin, pasti dia juga harus jaga kasir, belum lagi kalo ada komputer rewel, dia musti benerin juga, gimana-gimana juga namanya warnet gitu loh, masalah dekor gimana urusan ngga penting lah, kita juga pengennya dapet komputer cepet, internet cepet, yah ga pa-pa juga sih kalo misalnya tempatnya bersihan, lebih nyaman aja ngeliatnya, walopun namanya orang pake komputer, fokus pertama juga ke komputer, lingkungan sekitar sih asal ngga ganggu juga ga terlalu masalah koq …



Met nulis ya! 🙂

— dedicated to everyone, the thought of you all made seemingly bleak days of mine turn into colorful ones, the song I wish to present to you that I can think of now is … masih terngiang di telingaku/bisik cintamu/betapa lembut dan mesranya/aku terlena/terlena/ku terlena …

 
Leave a comment

Posted by on 12/28/2004 in Bahasa Indonesia

 

WherE?

There is a place

High above the highest shelter of the bright skies,

That goes by the name of

Redemption.

There,

People breeze past through the empty roads

While comforting troubled souls

Of their own.



In which I never deny its existence

For this journey would always lead to its

Destination.


Wherever it may be,

Whatever it has to sacrifice,

Whoever we will become.



Open wide pathways,

Leaves falling like scattered ashes,

Cars parked at their utmost ease,

Words spilled out along with the wind,

Dogs barking seductively to their mates,

Grass! Much too much to be rolled upon!



Space need not be conquered

Time watches its habitant walking on by

Through the unspoken stillness

Peace.

Comfort.



So non-urbanite!





— strolling along Portsdown Road and its branches on a windy Sunday morning, two kampung-spirited young men who go by the name of Cay and Nauval decide to surrender to the comfort of one fractured feeling: home —

 
Leave a comment

Posted by on 12/27/2004 in English

 



when Mother Nature has spoken,

at her utmost pitch,

not even Goliath, nor David, nor Adam,

can resist the tidal waves.



lives have lost.

souls have been swept away.



inna lillahi wa inna ilahi raji’un.



my deepest condolences.


 
Leave a comment

Posted by on 12/27/2004 in English

 

When.


I’ve to put the book down, while the journey was only halfway taken.
I’ve to lay my head down to the window that gives a shrill of breathtaking views.
I’ve to surrender my wandering thoughts.

Only to hum this:

When a man loves a woman,
Can’t keep his mind on nothin’ else,
He’d change the world for the good
Things he’s found.

If she is bad, he can’t see it,
She can do no wrong,
Turn his back on his best friend
If he put her down.

When a man loves a woman,
He’ll spend his very last dime
Tryin’ to hold on to what he needs.
He’d give up all his comforts
And sleep out in the rain,

If she said that’s the way it ought to be
Well, this man loves you, woman.
I gave you everything I have,
Tryin’ to hold on to your hot blood
Long.
Baby, please don’t treat me bad.

When a man loves a woman,
Down deep in his soul,
She can bring him such misery.

If she is playin’ him for a fool,
He’s the last one to know.
Lovin’ eyes can never see.
When a man loves a woman,
He can do her no wrong,
He can never hug some other girl.

. . . . . . . . . . . . . . .

(in a world where gender-biased would be an outdated opinion, just change, alter, or do whatever you readers feel like doing with sexes)

Does being in an upheaval feeling mean stopping the logic to work in its own way?
Does being in ecstatic ride mean being blind?
Does being in one mean to refuse what other angles may bring?
Does that mean I have to stop questioning?

In a crowded world where people and their chatterings may see you differently, where the time has politely persuaded me in bringing my amazement to the extent what you may become, where innocent assumption could only clash to bitter-sweet reality, you remain as these things to me.

Wise.
Calm.
Independent.
Mature.
Caring.
Loving.
Patient.
Planner.
Leader.

In all dreamy qualities one can ask for, I stick to that particular imagery of your silhouette.
As well as to let you go.

 
Leave a comment

Posted by on 12/25/2004 in English

 

Mein Name ist …

Ijinkan saya bernarsis ria sedikit di hari Natal mulia ini, sambil tak lupa menghaturkan rasa hormat kepada mereka yang merayakan, berikut menunduk rasa dalam duka cita kepada para keluarga korban kecelakaan helikopter TNI Angkatan Udara (AU) di Jawa Tengah kemarin (courtesy of Liputan 6 SCTV).

Mungkinkah suasana Desember penghujung akhir tahun dimana orang berlomba untuk mempercantik diri dengan belanja dan refleksi mempengaruhi tulisan ini nanti? Sangat! Karena pada akhirnya saya ingin membuka suatu rahasia yang sebenernya bagi orang laen dianggep, “Duh, ga penting banget deh ih!”

Memang ngga penting, tapi apa daya, kalau hasrat menulis sudah di depan ujung kelingking, sayang rasanya kalau laptop yang sudah menyala semaleman nungguin download mp3 dianggurin gitu ajah tho? Jadilah ditemani Joss Stone, Mick Jagger dan Dave Stewart yang lagi bengok-bengok di WinAmp ini saya pengen menulis tentang …

Now. Far.

Ayo sodara-sodari, diucapin berulang-ulang dalem hati ato keras-keras juga boleh selama ngga sampe didatengin penjaga warnet buat diusir ya ngga papa. Baca nama blog saya itu sambil selang-seling sama nama yang punya blog ini, yaitu …

Nauval.

Nah! Ketauan sekarang kenapa saya namain blog ini dengan dua kata sifat itu. Kalo mo dianalisa pake ilmu linguistik berinterpretasi psikologis, monggo lho, kadang-kadang saya juga suka maen analisa tingkah laku orang koq, walaupun tujuan asalnya, biar kedengeran sama dengan nama saya, yang matur nuwun kalo ada yang bilang eksotis, unik, bahkan suka dipelesetin jadi Bopal, Empal, Gopal, asal jangan Ovaltine aja karena dari dulu direcokinnya pake Milo!

Tapi, se-eksotis ato se-unik apapun, tetep kesel kan kalo ngga ada orang yang bener-bener bisa nyebut nama itu dengan baek sesuai ejaan yang diinginkan bapak ibu saya? Dan itulah yang terjadi dari saya menginjakkan kaki di bumi Singapura taun 1999 sampe sekarang ini, NGGAK ADA yang bisa nyebut namaku ini dengan pas, benar, ga mlintat-mlintut! *menghela napas dalam sekalian ngurusin perut buncit*

Nova? Novel? Noufe? Nafa? Naval?

Nauval! /na:w – fa:l/

“Sorry, how to spell your name ah?”

“en-ei-yu-vi-ei-el”

“N A U V A L”

“Correct”

“Wah, so unique your name ah!” (Ga berani nyoba-nyoba pronounce!)

“Thank you, auntie.”

Ato misalnya:

“Good afternoon! May I speak to … eermm .. Nowfel? Nofa? Nowal?”

(sambil menghela napas lagi pokoknya kedengeran hurup N, F ato V, dan L)

“Yes, it’s Nauval here speaking”

Dan disuatu penghujung taun 2003 pas kerja bantu pementasan Bibik Goes Broadway, setelah berulang kali si Stage Manager bingung manggil saya gimana, akhirnya saya jelasin:

“It’s just like you say the words “NOW” and “FAR”, only add ‘l’ sound at the end of the latter.”

“Oh I see!”

(trus kurang ajarnya manggil para kru laen)

“Everyone! His name is NOW (sambil pake gaya tangan nunjuk kebawah) FAAARRR (sambil pake gaya tangan nunjuk ke arah yang jauh).”

Semua orang manggut-manggut sementara saya cuman senyum mesem nahan malu pengen getokin si Stage Manager dodol!

Akhirnya rekan-rekan kerja saya suka dengan seenak udelnya nyuruh ganti nama kalo pas berhadapan ama klien ato customer biar mereka gampang manggilnya. Biasanya nyuruh ganti nama ke Noel.

Maaf yang punya nama ini, nama bagus lho, bahkan dulu pengennya kalo punya keponakan cowok mau dinamain ini. Tapi lha wong nama saya ini udah susah-susah nyarinya, bahkan tiap pulang kampung pun, bapak saya suka ngajak saya sungkem sama satu orang ustadz sepuh yang dulu ngasih ide ke bapak buat ngasih saya nama bagus ini.

Jadi saya tetep keukeuh ga mau ganti nama, apalagi kalo nama saya sampe NAFA! Haiyah!

Lha koq sama kaya satu selebriti yang jijay bajay itu?!?!?

Jadinya inget dulu pas pertama kali masuk sini, jaman orientasi, disuruh ngapalin nama-nama Cina yang bacanya ngga sama ama tulisannya itu! Saya, Ayu, Onel, Rika, Nyile, Randy yang sama-sama anak Indo dan kebetulan satu group plus tinggal di satu blok sampe ngabisin satu malem khusus buat belajar nyebut nama-nama ini, sambil tetep saya ga habis pikir:

“Namanya kan Kum Chuen, tulisannya kaya gitu, koq bacanya Kam Cun sih, bukan Kum Chuen?”

Gubrak!

Mungkin kalo seperti housemate saya Acay, meskipun nama asli Cahyadi tapi by default dia selalu ngenalin ke orang-orang sebagai Cay, enak gitu ngomongnya, langsung meluncur kaya Cap Cay.

Atau seperti teteh Karmela yang panggilan singkatnya Mel, ngga tau dia ngenalin dirinya gimana, orang sini keplintir-plintir ga mbak kalo nyebut lengkap Karmela?

Soalnya meskipun udah dipersingkat jadi “NOV” (seperti layaknya orang rumah manggil saya), orang sini pun masih keplintat-plintut manggil “Naf? Nor?”

Duh!

 
Leave a comment

Posted by on 12/25/2004 in Bahasa Indonesia