RSS

On Being Me.

08 Dec

Semalam aku tersentak ngeliat blognya mas Wisa.

Bukan karena dia mau nutup blognya.

Bukan karena shoutbox nya dia selalu jadi tempat nangkring dan nongkrong jutaan bloggers.

Tapi sedikit banyak tentang komentar dia tentang blog gue, dan blog orang-orang lain.

Mas Wisa udah berbuat apa yang selama ini masih jarang aku kerjain: nguwongke wong. Memanusiakan manusia. To humanize human beings. Dengan cara yang terbuka dan jujur, sesuai dengan kapasitas orang-orang yang disebut tersebut, to some extent until making some people blush with gladness.

Dan semua dilakukan dengan cara yang apa adanya selayaknya seorang manusia yang kebetulan berdarah Jawa.

Aha! Menjadi seorang Jawa.

Aku sendiri lahir tumbuh besar dilingkungan Jawa, walaupun penampakan fisik lebih diwarisi dari sisi bapak yang bukan Jawa. Dari kota dimana interaksi harian menggunakan bahasa Jawa yang banyak orang bilang “kasar!” itu, aku bermain, belajar, ngobrol, misuh-misuh pun pake bahasa Jawa! Ah, siapa sih yang ngga pernah misuh meskipun dalam hati? 🙂

Ibu ku pun berasal dari satu kota di Jawa Tengah yang terkenal dengan kehalusan tata-krama, yang tentu aja berusaha diwariskan ke anak-anaknya dengan cara-cara halus, termasuk persiapan diri kala Lebaran mudik ke kota ini, bertingkah laku teramat hati-hati dengan sanak saudara yang laen.

Sebatas itukah ke-Jawa-an saya?

Sayangnya, iya.

Sampai akhirnya pernah dikala kuliah dulu aku belajar Modern Indonesian Literature, salah satu buku yang beruntung aku dapatkan adalah Para Priyayi-nya Umar Kayam.

Deg!

Buku ini berhasil membuat gue tercengang dan malu, sebagai orang yang ngakunya wong Jowo, tapi dalam tindak-tanduk, kelakuan dan proses pemikiran ngga mencerminkan kebaikan sifat-sifat ke-Jawa-an ini. Dengan bahasa yang indah, mudah dicerna dan mengalir bak riak sungai yang tenang, Umar Kayam membuka mataku tentang kekuatan seorang Jawa menghadapi hidup yang selalu berubah di sekelilingnya, namun dengan ketenangan yang diterjemahkan sebagai kekuatan diri menghadapi segala sesuatunya dengan pasrah dan nrimo namun mampu menempatkan diri di alam dunia ini lah yang membuat gue cuman menunduk, mempertanyakan ke-Jawa-an gue.

Tuh liat, udah mulai “gue” lagi 🙂 Duh makasih deh buat para penggebrak sistem ‘global-village-concept’ dimana semua orang udah ga punya identification on distinctive culture yah, ngomong Jowo koq ono’ gue-elo! :p

Dan tentang kehilangan identitas ini juga yang gue rasakan ama jeng lincah belakangan ini, yang nick chat-nya selalu ber”wanita jawa”. Jadi inget, Anggun si penyanyi kita pernah bilang ke suatu majalah, “I’m proud to be a Javanese woman, she’s the utmost kind of woman above all kinds.”

Diskusi gue ama Imesh tentang wanita Jawa selalu berkisar pada suatu rumusan kalo wanita Jawa berarti wanita penyabar yang dengan segala kelemahlembutannya mampu meluluhlantakkan egoisme pria-pria, mampu mempengaruhi keputusan penting yang diambil oleh siapa pun, dengan segala kewanitaannya, dia menunjukkan sosok diri yang mandiri, kuat menghadapi naek turunnya hidup.

Berat!

Aku lihat ibuku sendiri, ibu rumah tangga yang juga punya usaha kecil-kecilan, pintar, ngga kenal kata capek, pulang pergi dari satu propinsi ke propinsi laen bisa dalam seminggu, tapi tetep merhatiin anak-anaknya dengan baek, ngajarin semua yang perlu diajarin, seorang pengemudi yang baik dan sangat cepat, hahahaha, seorang yang menekankan perlunya sekolah bener dan rajin beribadah, seorang partner buat bapakku yang setia dan sayang.

Bundaku. Meskipun logat Jawa nya tak sehalus kala dia tinggal bersama almarhum nenek dulu karena kelamaan gedein kita semua, tapi dia seorang wanita Jawa yang aku kagumi.

Kalo baca ini Mam, kacang pedes yang terakhir enak, soalnya lebih garing 🙂



Seperti semua tulisanku yang menggantung dan tak pernah terselesaikan, begitulah kali ini.

Aku tetep seorang pria Jawa yang berusaha menggali dan mendalami sisi ke-Jawa-anku.

Cay, Onel, matur nuwun udah jadi sparing partner ngomong Jowo tiap hari di rumah, bikin rumah kita serasa di tanah air beneran.



— maunya nulis diiringi gending Jawa, tapi adanya cuman Carole King yang ‘Will You Love Me Tomorrow’, yo wis lah, daripada ga ada 🙂 —


Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 12/08/2004 in Bahasa Indonesia

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: