RSS

mumblings.

21 Oct

jujur aja, sekarang ini saya lagi miskin yang berasa kaya.

gimana ngga miskin kalo ngga ada pemasukan. duit dari mana? ada sedikit sisa tabungan dan hasil kerja terakhir yang pas buat bayar kebutuhan pokok seperti uang rumah, utang komputer, listrik, air, telpon, dan makan a la kadarnya di hawker centres.
tapi jangan ajak saya pergi makan di restoran sekelas burger king pun, atau mengobrak-abrik cd di gramophone, atau nonton film di akhir pekan, dan juga pergi ke beberapa festival film yang sedang berlangsung. untung saja festival film perancis kali ini tidak memutar “hidden” nya michael haneke, karena kalau saja mereka berani memutar film ini, saya pun berani berhutang mati-matian, kalau perlu ngantri mati-matian di depan counter sistic.

tapi di tengah banyaknya waktu luang saya, ada perasaan bergetar setiap kali saya pergi ke esplanade library, dan melihat tumpukan buku tentang film yang berjejer rapi menjulang tinggi di depan saya yang kecil ini, baik secara fisik ataupun mental. seolah-olah mereka berkata, “come, read me this time”, walaupun tetap untuk urusan screenplay, saya masih ingin menuntaskan semua buku dari syd field sebelum pindah ke pengarang lain. seperti layaknya juga beberapa buku pauline kael, pahlawan kritikus film yang saya hormati karena selalu jujur dalam menulis review tentang film-film yang pantas dia review.

film.

mungkin anda bingung kenapa semua tulisan saya tentang film. jangan khawatir, meminjam penggalan lirik dari seurieus yang terlalu sering digunakan, nauval juga manusia, punya rasa, punya hati. hanya saja, rasa dan hati saya tidak bisa memungkiri bahwa dia suka menonton film, suka menulis tentang film, bahkan tidak malu-malu mengakui bahwa satu-satunya mata kuliah dulu yang rajin saya datangi baik lecture maupun tutorial nya adalah mata kuliah american film.
menariknya, mata kuliah ini adalah mata kuliah pilihan (minor), yang berarti bukan termasuk mata kuliah wajib dari dua jurusan (majors) yang saya ambil waktu kuliah di nus dulu.

dan inilah kecanduan saya yang mulai harus diatasi.

hari-hari saya diisi dengan nonton film lewat dvd yang dipinjam dari esplanade library (sekali lagi, jangan suruh saya pinjam di tempat peminjaman dvd umum seperti videoezy, karena alasan finansial), dan setelah film itu selesai masa putarnya, maka saya akan duduk dan berpikir di depan monitor komputer untuk kemudian mencari informasi tentang film ini, dan memutuskan apakah si film layak untuk dianalisa lebih lanjut.

gila?

sayangnya, obat penyembuh kegilaan ini tidak ada. kalaupun ada, bentuknya hanya berbeda sedikit, yaitu saya tetap menulis, tapi tentang sesuatu yang lain. sekarang ini saya lagi getol menulis tentang acara-acara di singapore yang berkaitan dengan lebaran, karena mau ngga mau, artikel inilah yang bisa saya tawarkan ke media massa.

tapi saya tetap percaya kalau dalam waktu dekat, saya harus menulis tentang film, dan tulisan-tulisan itu harus dipublikasikan ke masyarakat luas. saya tidak mau pernah berpikir apakah pembaca umum mau mengerti, atau bahkan hanya sekedar untuk membaca, karena itulah kepuasan saya pribadi.

jaman ini banyak kompromi, susah sekali mencari kesenangan diri.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 10/21/2005 in Bahasa Indonesia

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: