RSS

Category Archives: Bahasa Indonesia

Tuhan, I feel like a Being.

Tuhan,

aku koq jadi malu,

segan nan hesitant

dengan Anda.


Tuhan,

padahal aku cuman mau,

eerrm … anu … itu …

dimanja!

yang kata orang-orang “ngondek” itu lhooo, Gusti.

tapi mbuh, koq malu pake kata itu, katanya orang,

“hus! ora ilok! ra pantes!”

Tuhan,

kalo emang ga boleh ngondek, lha wong kata itu juga pemberianMu

Panjenengan Yang Maha yang nyiptain kita kumplit pake segala rasa dan jiwa katanya,

kita maen-maen aja koq pake anugerah-Mu itu,

jadilah kata-kata ajaib meluncur dari kami, tapi tetep,

ngaturaken pangapunten Tuhan sekiranya kami kelewatan, ora pantes dan ora ilok itu tadi.

Tuhan,

kelewatan kah kami juga kalo kami minta langsung?

minta mobil gitu loh, tapi pengennya dikasih langsung,

ga pake pancingan,

ga model pepatah yang bilang “berilah umpan dan kail, jangan kau beri umpan”

emooohhh! ora gelem!

lha wong kita sering take for granted keeksistensian Situ.

duh Tuhan,

makhluk mu ini bener-bener manja!

minta dikasih duit ato dedemit yang langsung jatuh dari langit,

gak mau pake yang harus kerja dulu ato nongkrong di kuburan,

maunya langsung sa’dhek sa’nyet ketok ndhek ngarep moto.

ya gini ini, muanja pol disisiMu, ya Gusti.

oalah Tuhan,

padahal teges-teges Engkau nulis supaya kita berusaha dan bekerja dulu, baru Engkau membantu bahkan memudahkan sampai memberi.

ndableg tenan emang kami! diparingi ati ngrogoh rempelo, padahal ga semua orang doyan rempelo, katanya orang, “high cholesterol, lho!”

matur sembah nuwun, Tuhan.

kami masih melek pas matahari njedul dul di langit.
 
Leave a comment

Posted by on 12/05/2004 in Bahasa Indonesia

 

Define the Definite Definition of Divine Dignity.

Ah, here I am, Saturday morning 4 am, without any sign of going to bed any sooner.

Insomnia? Gee, I hope not! I dealt with this irritating sickness when I was in college way back 3-4 years ago, so I should be fine, it’s a matter of having so many thoughts running through my heads with only having one blog to blurt out. Or rather, a collective of thoughts that has been buried inside since the mid of this week, when the workloads began killing my mentality! Any HR officer here? Oh ada ternyata, dirimu Jeng yah! :d Mungkin patut diusulkan tentang asuransi kesejahteraan mental pekerja akibat tekanan beban kerja yang diberikan secara mendadak di tengah-tengah minggu untuk diselesaikan di akhir minggu alias tadi! Whewwww … Just barely reaching the deadline, but final consolidation? God knows!

So, what was meant to be a perfect moment to de-stress this exhausted piece of bones and flesh turned out to be, well, something unthinkable:

Wenny (over MSN) —

“Babe, makan yuk, stress nih gue”

“Aduh sorry say, gue ada janji ama Eja, ga bisa dinner. Cabut dulu yak”

Aki (over MSN) —

“Ki, Fong Seng yuk”

“Gue mo makan ama boss gue, ama mo ke Boom Boom Room, mau ga?”

“Boom Boom Room? Ga ada tenaga gue buat clubbing, dinner aja yuk”

“Tanya Agee deh, dia nyari temen tuh”

Zefri —

“Zef, it’s me! Feel like catching … eeerr … Putri Gunung Ledang tonite? Hehehe, I know that film …”

“Oh dear, sorry, I don’t think …”


Tuuutttt. Must be inside the lift or something.

Anoe’ —

“Lagi dimana, babe?”

“Toa Payoh, mo on the way siaran”

“Lah, masih siaran juga elo?”

“Cuman 2-4 kali sebulan ini, pasti elo mo ngajak dinner deh! Giliran gue ajak kemaren2 elo ga bisa”

“Ya kan gue lembur! Ya su deh, Minggu pagi squash ya”

“Dateng aja lah, gue booking ntar”

PJ —

“Hey, Diva!”

“Hahahaha … Not anymore! Wait, are you STILL in the office?”

“Yeah, only for tonite lah, what’s up?”

“It’s been like what, 7-8 months not meeting up with you? So I guess dinner tonite won’t be possible, eh?”

“Naaahhh … Oh God, yeah, any changes from you?”

“I don’t know, you’ve gotta see it yourself!”

“Hahahahaa, next week then, Siglap maybe?”

“OK lah.”

Copper —

“This is Copper, I’m not able to pick up your call …”

(Darn it, Wolu Singer perform hari ini apa kemaren sih? Teguh juga dong kalo gituh!)

Agatha —

“Say, Fong Seng yuk!”

“Laahh, kemaren gue ajakin katanya elo lembur malem ini, gue dah kadung bikin janji ama si bapak”

“Laahh, elo janji ama dia? Gila!”

“Tadi ketemu di kantor, ya udah, maen tenis trus dinner kali, tau gitu kan gue ngobrol-ngobrol ama elo, besok elo sampe malem kan?”

“Yaaa gituu deehh, ntar Minggu juga ngopi-ngopi kan kita”

“Ya udah deh say, met istirahat”

Suhaimi —

“Bang, still on reservist?”

“Just finished actually, going out ah?”

“Yeah, but probably just for dinner, or coffee, or something”

“I just had my dinner actually, hahahah … It’s always like this when we made plans, whenever you’re busy, I was free then … Oh well, next week maybe? I’m quite free now …”

“… Oh, the school hasn’t started yet, rite? OK lah, see maybe next week with Pierre!”

Bogi —

“Gi, performance nya mulai jam berapa?”

“Jam 7.30, di The Edge-nya, elo dateng nih? Soalnya yang laen ga bisa!”

“Hmmm … Jauh Gi, gue lagi capek, elo dimana?”


“Masih di Mount E, ntar langsung ketemu disana deh kalo jadi!”

“Liat ntar aja gimana, Gi!”

Thank God that Desember’s edition of FIRST Magazine is out today after being several days’ late, otherwise my plan to wander around Holland V. would only be an empty-handed experience! Or is it an excuse of inability in getting rejuvenated and recuperated? I don’t know, but all I can remember that it is my first Friday evening I spent at home, in my room staring at my old faithful laptop trying to figure out how to modify my blog which resulted in a much more presentable manner, at least someone has given a praise for it, hahahaha! Thanks Doel, it has surely brightened up my sleepy morning :).

Tell me whether this is a good habit or not: tiap pulang kerja, hampir-hampir gue ngga pernah langsung pulang ke rumah dari tempat kerja.

I mean, there’ll always be places to visit, films to catch, library materials to be returned, meeting old friends, talk-over-nothing while sipping cuppa, kalo pun gue langsung pulang ke rumah, well, you can guarantee that it is for the sake of changing clothes! Welcome to my comfort zone folks, with the benefits of having a flat located nearby the city area :D.

That’s why it’s kind of odd when I met my two dear buddies, Fay and Iphonek (with the engagement ring!) way back on February in Citos:

N — “Eh, weekend kalian ngapain?”

F — “Haduh, weekend mah dah bingung deh ….”

I — “Banyak tempat neh yang musti dikunjungin! Hehehehe!”

F — “Ya gitu deh, kadang kalo ngga ke (nama kafe di Jakarta yang gue ngga ngeh), ya ke (nama club di Jakarta yang gue ga pernah tau kalo eksis!)

I — “Ato cobain ke (nama pub di Jakarta yang entah di belahan mana), enak banget kaya di (nama tempat entah buat apa, jangan-jangan tempat prakteknya mak Erot kesebut juga!)

N — “Wah seru bener!”

F — “Lha kamu ndiri?”

N — “Gue? (*gulp! dengan berdasarkan kenyataan dulu gue tinggal di Regent Heights Bukit Batok*) Jumat malem pasti dah rebutan nyuci baju ama housemate, soalnya mesin cuci nya lama bener, ga ada pengeringnya juga, jadi musti dijemur, dan tempat jemuran kecil, jadi keringnya juga baru 2 hari gitu deh, kalo ngga ya jemur di tangga pemadam kebakaran. Sabtu masih males-malesan sih, kebetulan ada mall deket jadi makan disitu, ato nonton. Minggu kerja bakti lah, giliran bersiin dapur, kamar mandi, ruang tamu, nyapu rumah, ngepel”

I was met by dua tampang dongo bengong melongo.

I — “Busyet … Jauh-jauh kerja elo jadi pembokat neh?”

N — “Lah, kalo bukan gue yang ngerjain sapa lagi? Lagian kapan lagi coba?”

F — “Hari-hari biasa?”

N — “Haduh, mana sempet! Kan beredar … Hehehehehe …”

But I guess to some extent it might be right, I understand that here, we are lucky enough to be blessed with a good accessibility to roam freely within the small space anytime we feel like doing it, thus it may leave a bundle of exhaustiveness collected throughout the weekdays to be unloaded by the weekends, which translate to the conclusion that laying on bed throughout the weekends is highly permissible!

Naahhh! Not me, a Saturday or a Sunday, full day, spent at home is a total waste! If it has to be done that way, make sure a Criterion Collection DVD full of extra features is ready by my side to indulge in to.

Wait! Throughout the past hour I’ve been writing this without realizing that from next week onwards, IAF starts working extensively … Nyeah nyeah nyeaahhh … Hahahahha … Punteeen kalo ada yang baca ini, huehehehehe … *fokus!*

 
 

puisi kesiangan

terhenyak oleh temaram malam aku menengadah ke atas.

bukan langit yang menaungi tapi sekedar susunan kayu yang melengkung.

telaga itu masih menaungi aliran air,

melawan hentakan kilau cahaya yang berperang,

merebut tempat tengah dimana tiada yang berdiri.



tubuh utuhmu menghampirinya dan merangsangnya.

entah kejutan apa yang menjalari arus nadimu,

bibirmu basah oleh kecupan.



tapi hanya itu.

bukan nalurimu yang tergerak.



aku masih bermimpi, dan terus menerus menagih.

 
 

All Out?! Get In!

for once, just ignore the mess in my right navigation bars, because just for once, we were having a great time!

So, it was told dari minggu lalu kalo housewarming Rumah Hollandia bakalan in conjunction with Halloween Party, which means? Costume Party, people! Dan karena kebiasaan ngumpul-ngumpul garing dan ga jelas kita yang ga pernah ada tema, tujuan, let alone dress code, bisa dibayangin kalo all minds and thoughts are concentrated on how to dress up, or down? Let’s see how it went …

Friday – 291004

Dari hari Kamis sebelumnya dah kirim sms ke Sayid, “Besok temenin nyari kostum yuk!”, plus dari Agatha “Ga dapet tiket Before Sunset, apa kita mo dinner aja?”, well, kenapa ga ditemuin aja dua orang ini di Holland V.?

Kelar gue buka + Maghrib, ketemu di BK, ke toko kostum yang jual peralatan pesta, and you’ve no idea how inspirations can come from such a tiny shop! Well, not that tiny, but compared to over-priced Isetan? Dari sini, all I had in mind was to dress up as a little devil with wings and halo, tapi kepentok ga punya bawahan warna merah, alias celana merah! Mo beli? Duh, mo dipake kapan coba, mana susye nyari atasan yang matching! Sementara Sayid dah settle ama kostum Zorro nya, at least topi nya doang, dan tinggal beli kaen item kiloan di pasar!

Off to Cold Storage, lah, ini supermarket mana jual kostum Hallowen-an?

Sambil sms Imesh yang tujuannya sambil menohok ‘Wish You Were Here’, huehehehhehe … But she proved to be more than helpful dengan ide-ide gilanya over SMS:

“Ah, kamu banyak maunya! 😛 gmn kalo jd ‘Metrosexual Dracoola’, kamu tinggal gaya ganteng, klimis, sdikit vintage+taring. (Komentar gue: Haduh, nyari vintage clothingnya!)

Ato kalian b3 kompak bgaya Moulin Rouge? (Komentar bertiga: Lady Marmalade??? Sapa yang mau jadi Christina Aguilera, sapa yang mo pake korset doang di luaaarrr???)

Ato jd setan bunuh diri aja. All u need: muka pucet, kemeja lusuh bau baygon, busa di dkt bibir, bawa kaleng baygon kosong & foto Dian Sastro nyembul di saku (Komentar Agee: busyet, Imesh kreatif banget!).”



Sambil mikir, sambil ngegosip di bis, sambil browse thru ideas ngelilingin Orchard, nemu topeng yang cocok jadi tema Phantom of the Operaaaaaa … kepentok lagi di kemeja putih renda-renda! Ini dimana tho wanita-wanita disaat kalian gue butuhkan punya kemeja ganjen koq malah ga ada yang punya? Ini juga Wenny tetep ngotot,

“Gue mo jadi Britney Spears di Baby One More Time! Huhuhuhu!” yang langsung kompak dikomentarin,

“Najesh! Bilang aja elo mo pake bikini!” Huahahahahaha!

After muter-muter ga jelas seputeran Taka, gue dan Agee minus Sayid yang kudu latian dance malah kepentok di tulisan:

Projectshop Bloodbros Sale 50%-70%

Huuaaaaaa !!!!!! Baru minggu lalu kesana sambil cursing here and there over the bloody expensive price for such a small stuff, akhirnya melayang juga si tas kecil item ke pangkuan gue, lebih tepatnya ke tentengan gue! Ohohohohoho … Oooppss!

Kostum?

Get set, grab a mummy mask sambil mikir besok tinggal dateng pagian ke Hollandia buat ngelilitin seluruh badan pake tissue, and we called it a day!



Saturday, 301004

Niatan dari awal buat bangun pagi to catch a few flicks plus shopped for a costume langsung buyar simply because of this feeling longing for … lazing around on bed! Hahahahaha … Hey, don’t we just deserve a little slowdown on weekend after work head over feet during weekdays?

Turned on my faithful lappie, cek e-mail, baca koran, it’s just your typical Saturday morning complete with MSN and Yahoo Messenger, dan obrolan gue ama Eko sempet bikin jiper waktu ngomongin kostum mummy gue:

“Nauval dear, ntar ujan baru tau rasa elo yah kostum ancur!”

“Party nya indoor kali, Ko!”

Laaahhhhh … Gledek! Just a little over 3 hours later, cloudy skies yang dari tadi udah nggantung high up there tiba-tiba aja numpahin semua aernya ke bumi! Hoooaaaahhhhh … Tapi …

“Kan gue ntar tinggal beli tissue di supermarket bawah trus dateng ke tempat Aki pagian”

But then, the lure of chatting proved to be too much to bear, after all, it was necessary to stay online for a little longer soalnya ada orang penting yang tiba-tiba aja nongol 😉

And the afternoon went by in a zap sampe Acay pulang buat leyeh-leyeh minta dibangunin kalo dah siap-siap mo berangkat, sambil ga lupa,

“Cay, ntar pake apa?”

“Ga tau, hahahahahaha, ga kepikiran! Mikirnya sih jadi blue man aja, pake baju biru, celana biru, muka biru.”

“Ooohhh …”


(terdiam sejenak)

“Caaayyy! Elo punya celana merah ga? Eh bentar … Ini gue pinjem deh baju lengan panjang merah elo”


(sambil beringsut-ingsut ke dapur)

“Seno! Ini apron merah punya sapa?”

“Lah itu kan emang punya Acay!”

“Ya udah, gue pinjem gue jadiin rok mini deh! Cay, ntar bantuin make up yah!”

“Yo wis, cepetan beli tanduk devil di toko bawah sana! Aku mandi dulu.”

“Iyaaaaa!”



Dan wuuuzzzzz … ! Meluncurlah gue ke Holland Village bagian depan, bagian toko-toko itu, ambil, bayar, nyempetin ngembat chocolate bun di Delifrance buat buka, beli mawar 3 tangkai di Market, masuk rumah, mandi, dan darn it! Kan gue musti make-up an!

“Onel! Pinjem … eeerr … apa, foundation yah? Tapi gue ga ngerti makenya!”

(dan ga perlu gue jelasin jawaban teknis dari Onel gimana karena kalian para perempuan tau pasti gimana makenya yang dalam prosesnya sempet gue mikir bahwa: ribet banget jadi cewek!)

Setelah sejam ngubek-ngubek depan kaca, gantian kuas, gantian cat, gue ama Acay sampe pada satu titik kesimpulan: susaaahh banget jadi make-up artist, musti tau struktur muka gimana, tema apa yang mau ditampilin, so I tip my hat off to you all, make up artists in the world!



Here we are, Devil-Me and Tribal-Puma siap mengadu domba di ajang Halloween @ Hollandia! Dengan nekatnya kami manggil taksi di bawah flat, sengaja tapinya milih tempat yang agak gelapan, ga berani yang rame depan supermarket, hahahahaha .. Walopun tetep manggil taksi dengan gaya ngangkang norak-norak bergembira sesuai tema pesta, apalagi gue yang pake rok-mini-dari-apron-merah itu, sempet kesulitan masuk gara-gara si tanduk mencuat!



Dan ternyata kehadiran gue ama Acay yang telat sejam lebih ini bener-bener bikin gempaaaarrrr!

Gempar karenaaaaaaaa …

1) Merah membara Setan Slutty ama biru a la Tribal style!

2) Ga ada yang make-up khusus!

3) Banyak yang ga kostum-aaaaannnn!!



Waks! Ini kan dah jelas tho sodara sodari kalo Embut, Aki, ama Agee dah ngingetin supaya dateng pada kostum-an, ato sebenernya kalian dah berkostum tuh? Huhuhuhu .. Yang jelas, kalo mo liat foto2 kegilaan kami, sok atuh ke:

http://photos.yahoo.com/mmpalzz trus click ke album Halloween yah!



After foto2 ga jelas, cerita2 serem sampe Ata numpahin teh dan buyar, nonton pelem horor ga jelas yang akhirnya gue ama Acay pamit buat jalan kaki pulang ke rumah, satu hal yang gue rasakan dari malem itu: PUAS!

Puas udah bisa tampil beda.

Puas udah bisa tampil all out, after all, the whole journey of preparation proves to be something fruitful.

Puas udah bisa all out, and get in the atmosphere well.



So, when you are into something fun, give yourself in, be out loud, folks!!!

 
 

Guilty and Pleasure.

Now, if you combine those two words, ga perlu dijelasin lagi apa maknanya, but sometimes I find it funny how one can draw inspiration from what seemingly to be a corny, to some extent irritating, product, be it our encounters in film, arts, advertisement, food!, books, so many other indulgences whereby you can just dip yourself deep into it, and you’re fine with that!

I myself can’t help it sometimes to hum cheesy melancholy songs, or liking bad-review flicks, or drolling myself over Swensen’s ice cream, but hey, they are sparks of life!

Again, what I’m gonna write will have nothing to do with all of them.

It’s just an interesting piece of a phone conversation last nite.



“Satu pertanyaan terakhir sebelum tutup nih!”

“Apa?”

“Well, I don’t know, this is some kind of question that a 15-year-old teenage girl would ask actually …”

“Hahahaahah .. Emang apaan?”

“I don’t know … Do you think I am a bad person?”

“No! Big No! Capital NO!”

“Please … ”

“Hey, look at the way you are doing now despite what we’ve been through, you know … Gak semua orang bisa kaya gini …”


“Well, thanks, but it’s not like a post-relationship, what about pre, and while in a relationship itself … “

“Bentar .. bentar! Pernah nonton pelemnya Antonio Banderas itu ngga, yang di perkebunan …”

“Antonio Banderas? Perkebunan? Apaan??”

“Aduh .. itu .. yang ama Angelina Jolie!”

“Ooohh .. “Original Sin”!” (dalam hati penulis: goodness! that horrible flick that I don’t bother to waste my time?)

“Iya! Gue inget disitu dia bilang bedanya love ama lust. Love means the ability to sacrifice yourself with what you have, sementara Lust berarti elo mau merampas apa yang dimiliki orang laen itu demi kepentingan elo. Dan elo udah melakukan yang pertama. Elo udah berkorban banyak dulu … (sensor!) … elo udah mau nerima kenyataan, bisa move on sampe sekarang, dan gue bisa bilang kalo elo udah pernah merasakan love itu.”

(terdiam)

“I don’t know. Mungkin belum cukup.”

Aku lupa bilang terima kasih semalam.

– to the paranoid one with such an undecisive manner which has become an inseparable part of my life-cyle, I dedicate Bic Runga’s Sway

 
 

Seaview dan Bangku Biru

(Kalo ini jadi kepublish, inilah tulisan tercepet yang pernah gue bikin karena gue lagi rushing to a job interview! Ganbatte!)

Alkisah dulu, di kampus NUS, tempat pertama gue menginjakkan kaki ke dunia Singapore, gue dan teman-teman tercinta penghuni Arts Faculty dan sekitarnya (biar yg kuliah di SOC, Engineering ato Science ga marah! huh!) punya kebiasaan yang bisa dibilang buruk dan baik, yaitu lunch berjam-jam di kantin Arts Faculty yang dengan seenakjidatnya kita namain Seaview. Karena? Dari satu sudut kita bisa ngeliatin pelabuhan Singapura yang benernya gak deket banget, tapi bisa lah ngeliatin kapal-kapalnya, plus balon StarHub yang sekarang udah ilang! Jadi bukan pelabuhannya yang kita lihat, tapi imajinasi kita tentang pelabuhan yang secuil di mata itulah yang membuat kita ngerasa lagi makan di pinggir lautan, dengan angin sepoi-sepoi bersama temen-temen saling ngobrol, tuker gosip, duduk leyeh-leyeh as if we had all the time in the world.

Kemaren gue napak tilas lagi ama Anoe makan siang disitu.

Ngga banyak yang berubah. Auntie yang jual Yong Tau Foo & juice drinks masih tetep, Uncle yang jagain minuman masih tetep, tapi makanan vegetarian dah ganti pemiliknya. Masih ngeliatin antrian panjang di jam makan siang, masih ngeliatin buku dan laptop di meja-meja.

Yang berubah cuman orang-orangnya. Satu dua orang saja yang kita tau, sebatas kecurigaan kita yang seperti, “Eh! Si bapak itu koq masih ada disini, emang dia ngambil honors?”, dan tentunya, “Gile loe, Cap! Sekarang dah jadi tutor ginih!”. Hohohoho, congrats ya, Kecap!

Kami pun berubah. Ngeliatin mereka, ngeliatin kami yang lagi pengangguran, hahahahaha! Obrolan yang ada pun berubah, gue rasa, ngga tau kalo elo, Noe’. Mungkin some things have to remain as what they are. Nostalgia biarlah tetap jadi nostalgia, kalo kita revisit the experience, tak akan ada yang sama lagi, karena bag of emotional experience yang kita punya sekarang sudah semakin bertambah.

Gitu juga dengan bangku biru di atas Forum (yang terasa aneh tanpa bangku-bangku bertebaran) tempat dimana gue pernah belajar sambil nunggu waktu buka puasa, tempat nongkrong dikala males ikut kuliah, tapi karena ga dapet tempat duduk kemaren, akhirnya napak tilas kita berakhir di bangku-bangku taman belakang yang, kata orang, dinamain Lover’s Park.

Duduklah kami …

Sambil ngeliatin renovasi lift kapsul ga penting banget, jelek pula!

Sambil ngeliatin Grinning Gecko yang masih exist.

Sambil ngeliatin ato tepatnya mergokin sepasang couple sama-sama baju putih yang nyaris kejatuhan bangku gara-gara sok mau berduaan padahal udah tau ih kalo bangku di taman ini pada miring-miring! Hihihihih!

Sambil ngeliatin snack full of sinful indulgence di meja kami.

Sambil menghela nafas meneduhkan pikiran pada angin senjakala.

Sampai akhirnya beranjaklah kami menuju kehidupan masing-masing.

No matter how my life has turned upside down ever since I stepped on my feet to you, NUS, elo adalah rumah pertama gue disini.

(kini harus aku lewati/sepi hariku/tanpa dirimu lagi/biarkan kini kuberdiri/melawan waktu/tuk melupakanmu/walau pedih hati/namun aku bertahan — intermezzo)

 
 

Satu Babak.



Kamu tersenyum. Padaku? Kenapa aku?

“You know what, you’ve one of the nicest smiles around.”

“Me? Hahahaha! C’mon, what are you trying to say?”

“Really, I … Yeah, I guess that was a lie!”

Maafkan aku tak bisa membalas senyummu.

Seandainya kamu tahu apa yang ada di pikiranku saat ini.

Seandainya kamu tidak beranjak pergi di satu pagi.

Seandainya kamu lebih punya hati.

“If only you don’t have to say it …”

“But I’ve to! I want to show you …”

“Like I want to know what you want to show!”

“And keep walking away from reality!”

“Because I’m not looking for reality with you!”

“You worship me …”

“As how it is in my dream.”

Beri aku satu pertanda apakah aku harus tersenyum padamu.

Apakah kamu berharap satu balasan setimpal dari aku?

Ataukah aku harus bersikap mengasihanimu?

Seandainya aku bisa melangkah lebih jauh lagi.

Seandainya aku tidak tersendat dalam alunan nada kenyamanan.

Seandainya aku tidak pernah mengenalmu.

Seandainya aku tidak pernah berdiri disini.

….

(nyontek Yuka-B)

 
 

Tuhan, it’s me.

Tuhan,

kapan ya gue bisa berterimakasih lagi secara tulus?

Koq tiap kali gue terduduk bersimbah peluh menghadap hadirat-Mu

hanya keluh kesah yang muncul?

Padahal semua datang dari Maha Kuasa-Mu yang gue ngga ngerti dan ga tahu,

dan betapa sangat tahunya diri-Mu akan rasa penasaranku yang menggebu,

sesekali tak terbendung meskipun semua itu bukannya bikin aku jadi terharu,

malahan menjauh!

Tuhan,

mungkin aku yang mengulur waktu supaya selalu ada alasan-alasan semu,

maklum Tuhan, mentalku mental manusia semata yang maen borongan buat semuanya aja

demi alasan efektifitas dan efisiensi yang seringnya malah jadi bumerang!

Tuhan,

padahal yang aku dan umat-Mu ingin sampaikan adalah,

terima kasih.

Dan berat sekali untuk menghaturkan perasaan pengakuan akan kedigdayaan-Mu ini,

ada sekeping ketidakrelaan kalau ego harus tertunduk terdiam terhenyak dan terpasrah.

Tuhan,

Terima kasih untuk hidup.

Matur nuwun sanget.

 
 

Cukup jelas,

aku bosan jadi pelacur.

Karena melacur bukan berarti enak-enak makan kue cucur,

yang ada malah lelah letih keringat mengucur.

Capek lho jadi pelacur!

Strike a pose, stand up straight, shake your butt, chin up, all polished from head to toe,

Untuk hal yang orang bilang tabu.

But we do it!

Soalnya kita perlu duit.

And that’s the solely reason we can live with.

Ah, melacur …

Berarti aku harus terus menerus berguling dalam alam kelabu

In a fine line between both extremes

of knowing and not knowing

Apa yang gue lacurin ini.

Melacur, berarti aku harus mencari tahu

Apakah ini yang aku gumuli untuk mencari kesenangan semu

Atau apakah ini yang aku tempuh dalam hidup

Agar nasib bisa diadu

Dan cinta bisa berlabuh

Gila!

Seumur hidup gue bakal jadi pelacur dong!

Mengemis mengais meringis menangis menahan perih

Tapi nyaman juga,

Sampai saat ini aku masih merasa secure jadi pelacur.

“lihat dirimu/semakin jauh mengayuh/lewati segala tujuan hidup yang mungkin kau tempuh”

Like that docu-style of interview in The Motorcycle Diaries that I dismiss, me and Zeff can only say: “I find it disrupting the enjoyment of watching the film, I don’t like it, but then, I can’t think of any other ways to do it, it’s necessary to be there.”

 
 

Friday!

What’s so fascinating about this particular day, compared to any other day in a week? It’s a gate to another weekend where you can chill out, relax, free yourself from boundaries and stress you’ve gone through from Monday to … Friday?

Enough about the mumble rumble of nothing, today, or rather this weekend, is gonna be the very last time Regent Heights Tower A #18-02 occupied by some very cute yet inspiring and intelligent people who have come and gone to this place. Boleh dong promosi diri sendiri :p

Yah, tempat inilah dimana taun lalu gw mulai mendamparkan diri gw untuk mengadu nasib dan keberuntungan. Di tempat ini pula lah gw ketawa, menangis, berbagi gosip dan merasakan gosip, being in the middle of some ‘uncomfortable, continuous confrontation’, kenal Imesh (ah! love you, Cint! and all those plastic bags :P) masakin sahur for like 20 consecutive days, sudden invasion tiap malem minggu yang maen PS ato nonton bola, hahahaah …

Dari kamar Wenny, ke kamar Dendry, numpang di kamar Dendry ama Ata, gw keluar pindah ke Holland Village, Inad keluar ke Guilin View, Ute masuk, and finally, bubye …

Truly gonna miss this beautiful, fun and meaningful home.