RSS

Seaview dan Bangku Biru

12 Oct

(Kalo ini jadi kepublish, inilah tulisan tercepet yang pernah gue bikin karena gue lagi rushing to a job interview! Ganbatte!)

Alkisah dulu, di kampus NUS, tempat pertama gue menginjakkan kaki ke dunia Singapore, gue dan teman-teman tercinta penghuni Arts Faculty dan sekitarnya (biar yg kuliah di SOC, Engineering ato Science ga marah! huh!) punya kebiasaan yang bisa dibilang buruk dan baik, yaitu lunch berjam-jam di kantin Arts Faculty yang dengan seenakjidatnya kita namain Seaview. Karena? Dari satu sudut kita bisa ngeliatin pelabuhan Singapura yang benernya gak deket banget, tapi bisa lah ngeliatin kapal-kapalnya, plus balon StarHub yang sekarang udah ilang! Jadi bukan pelabuhannya yang kita lihat, tapi imajinasi kita tentang pelabuhan yang secuil di mata itulah yang membuat kita ngerasa lagi makan di pinggir lautan, dengan angin sepoi-sepoi bersama temen-temen saling ngobrol, tuker gosip, duduk leyeh-leyeh as if we had all the time in the world.

Kemaren gue napak tilas lagi ama Anoe makan siang disitu.

Ngga banyak yang berubah. Auntie yang jual Yong Tau Foo & juice drinks masih tetep, Uncle yang jagain minuman masih tetep, tapi makanan vegetarian dah ganti pemiliknya. Masih ngeliatin antrian panjang di jam makan siang, masih ngeliatin buku dan laptop di meja-meja.

Yang berubah cuman orang-orangnya. Satu dua orang saja yang kita tau, sebatas kecurigaan kita yang seperti, “Eh! Si bapak itu koq masih ada disini, emang dia ngambil honors?”, dan tentunya, “Gile loe, Cap! Sekarang dah jadi tutor ginih!”. Hohohoho, congrats ya, Kecap!

Kami pun berubah. Ngeliatin mereka, ngeliatin kami yang lagi pengangguran, hahahahaha! Obrolan yang ada pun berubah, gue rasa, ngga tau kalo elo, Noe’. Mungkin some things have to remain as what they are. Nostalgia biarlah tetap jadi nostalgia, kalo kita revisit the experience, tak akan ada yang sama lagi, karena bag of emotional experience yang kita punya sekarang sudah semakin bertambah.

Gitu juga dengan bangku biru di atas Forum (yang terasa aneh tanpa bangku-bangku bertebaran) tempat dimana gue pernah belajar sambil nunggu waktu buka puasa, tempat nongkrong dikala males ikut kuliah, tapi karena ga dapet tempat duduk kemaren, akhirnya napak tilas kita berakhir di bangku-bangku taman belakang yang, kata orang, dinamain Lover’s Park.

Duduklah kami …

Sambil ngeliatin renovasi lift kapsul ga penting banget, jelek pula!

Sambil ngeliatin Grinning Gecko yang masih exist.

Sambil ngeliatin ato tepatnya mergokin sepasang couple sama-sama baju putih yang nyaris kejatuhan bangku gara-gara sok mau berduaan padahal udah tau ih kalo bangku di taman ini pada miring-miring! Hihihihih!

Sambil ngeliatin snack full of sinful indulgence di meja kami.

Sambil menghela nafas meneduhkan pikiran pada angin senjakala.

Sampai akhirnya beranjaklah kami menuju kehidupan masing-masing.

No matter how my life has turned upside down ever since I stepped on my feet to you, NUS, elo adalah rumah pertama gue disini.

(kini harus aku lewati/sepi hariku/tanpa dirimu lagi/biarkan kini kuberdiri/melawan waktu/tuk melupakanmu/walau pedih hati/namun aku bertahan — intermezzo)

Advertisements
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: