sebelum logika mulai bertingkah,
sebelum hasrat mati,
sebelum kebodohan terlihat tolol,
sebelum perasaan harus mengalah,
biarkan kegilaan ini berjalan.
biarkan live for the moment.
biarkan senyum mengembang untuk entah berapa saat.
biarkan.
love sets one’s mind free.
T.
Category Archives: Bahasa Indonesia
This Thought.
(w/o)
Saya (sedikit/hanya/SANGAT) iri
Sama orang-orang yang bisa mengikuti kata hati
Saya (jarang/kadang/SELALU) cemburu
Sama mereka yang terus melaju
Karena saya malu.
*menunduk*
Blissful.
Tuhan,
Kenapa harus hadir seseorang seperti dia?
Yang tersenyum penuh
Yang terbuka lebar
Yang terang-terangan melacur
Yang terasa idealis
Yang terbang tinggi
Yang terlihat indah
Yang membuat saya kembali
Merasa bukan apa dan siapa.
— this time the dream’s on me —
The One.
Yay!
I can’t help naming the title of my posting here with such a majestic, grandeur, honorable, magnificent degree, for suddenly all I could think of was … Jet Li!
“The One”, one of all those mishaps B-grade action flicks Jet Li made in Hollywood, made to Numero Uno in the box-office chart when it was released on its first week, and like any other films aiming at milking money, it fell horribly down by the following weeks. Hollywood. And its arrogance in shamelessly exploiting Asian thespians without knowing how to properly generate their truest talent.
This was not supposed to be a posting about films though, but then again my dear readers, kindly bear with my ultimate indulgence here, because later on you’ll find out the correlation of my liking and the title I put here. (Where’s Rio whenever I need his guidance on writing a story properly?)
Yeap, I need a guidance here.
For once, words have begun to diminish whenever they are needed to pay back someone’s gratious effort, because they may have been overused.
For once, an air of disbelief relief has filled my lung over the weekend.
For once, finally, I can say :
I HAVE SOMEONE TO CELEBRATE MY BIRTHDAY WITH!
Muahahahahahahaha!
Those cynical, smirking smiles of you all my dearie friends, this hopeless romantic has finally found his ultimate wishlist.
“Gile, pacaran juga elo akhirnya!”
— Heh? Pacaran? Masih jaman yah, pacaran? Yang ini lebih dari itu!
“Are you sure, kalo dia bakal stay on?”
— Pentingkah? Guaranteed kalo selalu ada dia koq di tiap ulang taun gue!
“Ntar putus, elo mellow lagi”
— Eh! Ini ga pacaran, ga putus, ga bakal mellow!
“Kecepetan! Ulang taun masih 90 hari lagi!”
— Biyayin! Justru gue mo pengumuman sekarang biar semuanya pada nurutin
BIRTHDAY WISHLIST!
Hohohohoho! Finally! Wenny, Copper, you are not the only ones yang secara najesh bin naujubilah ngirimin birthday BBQ party pake wishlist, nih liat, 3 bulan in advance gue dah pasang, gara-gara bosen juga tiap bulan terima kartu yang:
“Nauval, sorry ngga bisa menuhin ultimate wishlist elo yang pengen dapet pacar pas ulang taun, moga-moga gantungan kunci ini bisa menghibur”
ato
“Dear, jangan sedih ya, here’s a book on How To Surviving a Break-Up sebagai pengganti ga ada pacar pas ulang taun”
So, let’s start the ball rolling!
Mini iPod? Creative Zen? iBook?
😛
Plung!
Jangan tanggung-tanggung
Kalo ingin melacur!
Paling enak langsung
Terjun
Nyebur
Ancuuurrr!
Basah?
Biarin ajah!
Kalo masih bisa dikeringin, alhamdulillah!
Kalo kepalang?
Ya sudah!
Biar ga bahagia,
Yang penting hidup enak!
Udah ngga usah sok muna’!
Mau juga kan? 😉
(kesalahan terbesar dalam hidup adalah pelacuran tanggung)
Flow.
Jika dirimu adalah angin yang bertiup
Yang hadir begitu saja
Mendirikan bulu tengkuk ku
Maka aku ingin
Menutup angin itu
Dan menyimpannya rapat
Tapi apakah kau tetap berdesir nanti?
(di tengah keremangan rutinitas 9.5 jam, mengagungkan kejailan Tuhandalam mengatur hari dan hati)
One. Some.
Kamu!
Ya, kamu!
Yang liat dan baca tulisan ini!
Kamu yang harusnya disini,
buat aku meraung-raung
di tengah segala penat, lelah, kesal dan …
Semua kebutekan dan kesumpekan yang udah memuncak!
Kapan kamu pernah hadir?
Capek dan bosan
Tiap malam hanya bantal guling empuk itu
Yang jadi sasaran tinjuku
Sesekali mau yang hidup layaknya kamu
Biar bisa kuucek-ucek rambut hitam itu
Sekedar kukecup kening dan pelipis
Melingkarkan tanganmu untuk mendekapku
Agar ketika ku terjaga dari mimpi-mimpi buruk itu
Ada kamu yang mengusap dan mengajak tidur lagi …
Dimana aku bisa ikut menangis melihat Aceh porak poranda
Dimana kamu bisa dengan semena-mena meminta
Agar aku gak pecicilan
Atau keganjenan
Emang pernah?!
I wish!
Kumaki, kucaci
Kutinju, kupeluk
Kudekap, kucium
Kucuekin, kutelpon
Kusuapin, kubiarin nunggu.
Aku egois.
— a season has walked on by / yet your shadow remains / traceable in every sense / to survive is to remember / that facial thing / linking all my pains —
Let’s Write!
Alhamdulillah buat para inventor blog ini, karena bisa cuap-cuap di tengah keramaian dunia maya.
Mau didengerin atau ngga, itu urusan belakangan, karena yang penting dengerin kata hati dulu tho?!
Tapi kalo kata hati berasa mati, apa yang mau ditulis?
Dan inilah yang menjadi kendala salah seorang blogger yang ngga mau disebutin nama dan blognya, karena ingin merahasiakan identitasnya sebagai seorang Batak asli Jakarta yang lancar ngomong bahasa Sunda dan lagi terpukau melihat kebohay-an dan kelumay-an aset tubuh beberapa rekan kerjanya yang selalu membuat dirinya tersenyum mesum di tengah siap-siap meeting (!!!), dimana dia ngerasa sudah mati hati ngga ada intuisi buat maenin keyboard sekedar orat-oret beberapa kata di papan putih blogspotnya.
Nah, padahal dari situ udah ada kan bahan tulisan yang bisa diumbar dan diungkapkan, sampe kadang di tengah hectic atmosphere of work namun pasang MSN Messenger masih jadi kewajiban ini perlu dikasih hint bahwa:
+ Lah, ini elo lagi ngobrol ama gue, elo kan MENULIS
– Tapi kan ngga sama, Pal
+ Haduh, elo cut paste aja lah omongan kita!
– Tetep laen rasanya
Untunglah dia udah mulai bangkit dari mati suri, apalagi Natal ini dia pulang ke ranah tempat sanak saudaranya di bilangan Jakarta Pusat, pasti banyak cerita, kalaupun ngga banyak, paling ngga saya akan tetep diem, apalagi kalo udah disogok pake setoples bawang goreng.
Bahkan Acay yang seatap rumah dengan saya pun sampai perlu nulis kuburan sendiri di blognya, kematian menulisnya sampe perlu dikeramatkan karena kematian menulisnya berarti sama matinya dengan tidak ada bacotan Jawa yang menghiasi indra pendengaran saya tiap harinya sambil rebutan jatah nyuci, tempat jemuran, giliran mandi …
Apa yang bikin kita susah nulis?
“Ngga ada bakat”.
Oh ya? Rasanya koq susah diterima akal, apalagi buat para kaum urban yang notabene menghabiskan waktu di tempat kerja, apapun itu, dengan menulis memo atau email yang berhubungan dengan kerjaan, mencatat pesanan, rumpi-rumpi berbumbu diskusi dan gosip di Yahoo Messenger, maupun sekedar nulis SMS buat janjian ketemu atau selingkuh.
Bukankah blog ini adalah lahan lapang punya kita dimana tempat kita bebas menuliskan apa pun yang kita mau? Apa pun itu, sampe ucapan terima kasih atas penulisan skripsi di blognya Barrie yang membuat saya pengen membujuk dia buat nulisin satu skripsi di blognya, lha wong saya ga pernah ngerasain nulis skripsi itu gimana!
“Ngga ada waktu”
Maklum lah kalo yang ini, kadang waktu 24 jam itu pengennya diulur jadi 26, 28, 30 … alah, ngga pernah puas ntar!Apalagi dengan gaya hidup orang kota seperti saya yang pulang kantor jarang sekali langsung pulang ke rumah kalo ngga inget ada utang setrikaan seminggu ato utang nonton DVD yang musti dikembaliin ke Esplanade Library kalo ngga mau kena denda $1/ hari.
Atau mungkin kesibukan kerja yang mengharuskan kerja romusha (in disguise lho!) seperti mas Rio yang sering dikira orang mirip anggota F4 walopun jiwa Soneta Group ini.
Sambil mencuri-curi waktu di tengah kerjaan numpuk, beberapa kali terungkap di tengah curhatan panjangnya (curhat panjang, sodara-sodara, ngakunya kerja! hihihihi) kalo dia udah punya banyak ide tulisan yang mau dia publikasiin di blognya yang jadi arena ngumpul sejuta umat bloggers di dunia ini, layaknya juga blog mas Wisa yang lebih terkenal sebagai tempat chatting daripada update-an postingan, sampe dia perlu ngerasa nutup si blog buat sementara waktu!
Tapi rasanya waktu pun menjadi sesuatu yang perlu dipertanyakan, setelah kemarin sore, dalam suatu kesempatan langka nan ajaib, ada user manggil saya di YM dengan nick Ve, si manusia sibuk di dunia perfilman, dimana pas saya buka blognya, oh la la! Sejuta postingan baru yang mempertegas daya kreatifnya, semuanya bukan tulisan sembarangan, namun udah ngelewatin proses mikir cukup dalem kayanya (kaya’nya lho, Ve! Hahahaha!), padahal sungguh-sungguh waktu luang sepertinya jadi barang antik buat dia.
Ngga seperti saya memang yang asal bacot nulis ga mikir pokoknya asal maenin jari-jari diatas keyboard sebagai pelampiasan ngga pernah bisa maen piano, sehingga kadang sim salabim! Lima menit sebelum berangkat interview kerja pun pernah terjadi suatu tulisan dengan kualitas yang patut dipertanyakan, hahahaha!
“Ngga punya komputer sendiri”
WARNET! INTERNET CYBER CAFE!
“Ngga ada ide”
Kebetulan alam lahiriah membentuk saya sebagai orang bacot dalam tulisan dan lisan dimana akhirnya sering terjadi konslet antara otak dan mulut (dan tangan) karena apa yang udah terbentuk di kepala harus ngantri panjang di syaraf sebelum keluar dari bibir ditandai dengan banyaknya filial words kaya’ “eeerrmmm” ato “eeerrr” ato “hmmmm” ato “eeeeeyyyy” ato pause lama.
Jadinya memang saya suka ngomentarin apa yang ada di sekitar penglihatan mata dan pendengaran, itulah kenapa meskipun ngiler tergoda ama barang-barang MP3 Player macem keluaran Creative ato iPod, tetep ngga bisa jadi barang yang harus saya beli, ngga biasa nutup kuping kalo pas lagi jalan, serasa terisolasi dari dunia luar, padahal saya seneng dengerin suara-suara lalu lintas ramai kalo lagi nyebrang deket City Hall, ataupun suasana konstruksi mesin di Nicoll Highway misalnya. Cukup lah saya mengisolasi diri dengan baca buku, majalah sampe leaflet kalo naek bis ato MRT sendiri.
Kebacotan ini juga yang bikin gawat karena mengakibatkan ketidaksabaran saya kalo bertemu dengan orang yang udah lama kenal dan akrab (bukan yang baru kenal lho!), dan terlibat percakapan seperti:
+ Eh gila, pa kabar elo?
– Gini-gini aja koq, ngga ada yang bisa diceritain
+ Duh, masa sih? Bukannya waktu itu elo pergi ke Langkawi pas long weekend? Gila, bukannya musim hujan gini loh, monsoon, bete dong elo di kamar hotel doang, bla bla bla …
(interupsi: barusan liat Sayid goyang ngebor udah cukup bikin gue feeling dizzy and distracted, kalo ngga mau dibilang, ilfil! hihihihi)
Terus terang Philips terang terus, balik lagi ke tujuan orang bikin blog.
Mau nulis apa?
Beberapa blog hasil temuan dari blog-hopping memang terlihat jelas, seperti blog puitis dari mbakyu Ken ini yang menorehkan kata-kata indah bermakna yang sering jadi acuan saya untuk coba-coba bikin puisi.
Atau sekedar celotehan jenaka dari si teteh Karmela yang udah kenal 3-4 taun tapi ngga pernah ketemu walopun sama-sama satu pulau, atau review album seperti blognya Eko, the walking encyclopedia of music, atau sekedar tulisan lirik lagu yang sempet bikin saya kecele karena dikira puisi di blognya Rivaldi, atau catatan perjalanan seperti Azmin si murah senyum dan juga petualangan Luigi di benua lain, atau sekedar jadi diary selayaknya yang dipunyai banyak bloggers.
Jadi, sebelum diprotes ama Endang yang sering mencak-mencak karena kepanjangan isi tulisan, lebih baek saya sudahi dulu meskipun masih banyak ide bermain on both sides of my tiny little brain.
Sekarang?
Buka dashboard blog.
Click Create New Post dong.
Jari-jari udah di atas keyboard?
Apa yang kamu liat?
Tembok putih?
Tembok putih.
Bersih?
Lumayan.
Koq lumayan?
Abis masih ada kotoran nempel.
Ih pasti yang punya warnet jarang bersiin!
Kayanya gitu sih, abis warnet ini kan buka 24 jam, udah gitu rame lagi, mana sempet yang jaga warnet bersiin, pasti dia juga harus jaga kasir, belum lagi kalo ada komputer rewel, dia musti benerin juga, gimana-gimana juga namanya warnet gitu loh, masalah dekor gimana urusan ngga penting lah, kita juga pengennya dapet komputer cepet, internet cepet, yah ga pa-pa juga sih kalo misalnya tempatnya bersihan, lebih nyaman aja ngeliatnya, walopun namanya orang pake komputer, fokus pertama juga ke komputer, lingkungan sekitar sih asal ngga ganggu juga ga terlalu masalah koq …
Met nulis ya! 🙂
— dedicated to everyone, the thought of you all made seemingly bleak days of mine turn into colorful ones, the song I wish to present to you that I can think of now is … masih terngiang di telingaku/bisik cintamu/betapa lembut dan mesranya/aku terlena/terlena/ku terlena … —
Mein Name ist …
Ijinkan saya bernarsis ria sedikit di hari Natal mulia ini, sambil tak lupa menghaturkan rasa hormat kepada mereka yang merayakan, berikut menunduk rasa dalam duka cita kepada para keluarga korban kecelakaan helikopter TNI Angkatan Udara (AU) di Jawa Tengah kemarin (courtesy of Liputan 6 SCTV).
Mungkinkah suasana Desember penghujung akhir tahun dimana orang berlomba untuk mempercantik diri dengan belanja dan refleksi mempengaruhi tulisan ini nanti? Sangat! Karena pada akhirnya saya ingin membuka suatu rahasia yang sebenernya bagi orang laen dianggep, “Duh, ga penting banget deh ih!”
Memang ngga penting, tapi apa daya, kalau hasrat menulis sudah di depan ujung kelingking, sayang rasanya kalau laptop yang sudah menyala semaleman nungguin download mp3 dianggurin gitu ajah tho? Jadilah ditemani Joss Stone, Mick Jagger dan Dave Stewart yang lagi bengok-bengok di WinAmp ini saya pengen menulis tentang …
Ayo sodara-sodari, diucapin berulang-ulang dalem hati ato keras-keras juga boleh selama ngga sampe didatengin penjaga warnet buat diusir ya ngga papa. Baca nama blog saya itu sambil selang-seling sama nama yang punya blog ini, yaitu …
Nah! Ketauan sekarang kenapa saya namain blog ini dengan dua kata sifat itu. Kalo mo dianalisa pake ilmu linguistik berinterpretasi psikologis, monggo lho, kadang-kadang saya juga suka maen analisa tingkah laku orang koq, walaupun tujuan asalnya, biar kedengeran sama dengan nama saya, yang matur nuwun kalo ada yang bilang eksotis, unik, bahkan suka dipelesetin jadi Bopal, Empal, Gopal, asal jangan Ovaltine aja karena dari dulu direcokinnya pake Milo!
Tapi, se-eksotis ato se-unik apapun, tetep kesel kan kalo ngga ada orang yang bener-bener bisa nyebut nama itu dengan baek sesuai ejaan yang diinginkan bapak ibu saya? Dan itulah yang terjadi dari saya menginjakkan kaki di bumi Singapura taun 1999 sampe sekarang ini, NGGAK ADA yang bisa nyebut namaku ini dengan pas, benar, ga mlintat-mlintut! *menghela napas dalam sekalian ngurusin perut buncit*
Nova? Novel? Noufe? Nafa? Naval?
Nauval! /na:w – fa:l/
“Sorry, how to spell your name ah?”
“en-ei-yu-vi-ei-el”
“N A U V A L”
“Correct”
“Wah, so unique your name ah!” (Ga berani nyoba-nyoba pronounce!)
“Thank you, auntie.”
Ato misalnya:
“Good afternoon! May I speak to … eermm .. Nowfel? Nofa? Nowal?”
(sambil menghela napas lagi pokoknya kedengeran hurup N, F ato V, dan L)
“Yes, it’s Nauval here speaking”
Dan disuatu penghujung taun 2003 pas kerja bantu pementasan Bibik Goes Broadway, setelah berulang kali si Stage Manager bingung manggil saya gimana, akhirnya saya jelasin:
“It’s just like you say the words “NOW” and “FAR”, only add ‘l’ sound at the end of the latter.”
“Oh I see!”
(trus kurang ajarnya manggil para kru laen)
“Everyone! His name is NOW (sambil pake gaya tangan nunjuk kebawah) FAAARRR (sambil pake gaya tangan nunjuk ke arah yang jauh).”
Semua orang manggut-manggut sementara saya cuman senyum mesem nahan malu pengen getokin si Stage Manager dodol!
Akhirnya rekan-rekan kerja saya suka dengan seenak udelnya nyuruh ganti nama kalo pas berhadapan ama klien ato customer biar mereka gampang manggilnya. Biasanya nyuruh ganti nama ke Noel.
Maaf yang punya nama ini, nama bagus lho, bahkan dulu pengennya kalo punya keponakan cowok mau dinamain ini. Tapi lha wong nama saya ini udah susah-susah nyarinya, bahkan tiap pulang kampung pun, bapak saya suka ngajak saya sungkem sama satu orang ustadz sepuh yang dulu ngasih ide ke bapak buat ngasih saya nama bagus ini.
Jadi saya tetep keukeuh ga mau ganti nama, apalagi kalo nama saya sampe NAFA! Haiyah!
Lha koq sama kaya satu selebriti yang jijay bajay itu?!?!?
Jadinya inget dulu pas pertama kali masuk sini, jaman orientasi, disuruh ngapalin nama-nama Cina yang bacanya ngga sama ama tulisannya itu! Saya, Ayu, Onel, Rika, Nyile, Randy yang sama-sama anak Indo dan kebetulan satu group plus tinggal di satu blok sampe ngabisin satu malem khusus buat belajar nyebut nama-nama ini, sambil tetep saya ga habis pikir:
“Namanya kan Kum Chuen, tulisannya kaya gitu, koq bacanya Kam Cun sih, bukan Kum Chuen?”
Gubrak!
Mungkin kalo seperti housemate saya Acay, meskipun nama asli Cahyadi tapi by default dia selalu ngenalin ke orang-orang sebagai Cay, enak gitu ngomongnya, langsung meluncur kaya Cap Cay.
Atau seperti teteh Karmela yang panggilan singkatnya Mel, ngga tau dia ngenalin dirinya gimana, orang sini keplintir-plintir ga mbak kalo nyebut lengkap Karmela?
Soalnya meskipun udah dipersingkat jadi “NOV” (seperti layaknya orang rumah manggil saya), orang sini pun masih keplintat-plintut manggil “Naf? Nor?”
Duh!
Not. Just …
Kamu pernah hadir.
Tapi tolong!
Kamu sudah pergi.
Jangan kembali.
Aku tidak pernah sekali atau dua
Mendatangkanmu.
Jadi biarlah apa yang dulu ada
Mengapung.
Sudahlah!
Kibasan ini ngga perlu ditepiskan
Atas nama segala rasa hormat
Percaya
Kebaikan
Kesejahteraan
dan segala bentuk Kehidupan
berikut Kepercayaan
sudah cukup yang dulu itu.
Terimakasih kalau aku memang pernah berarti,
Terimakasih kalau aku memang pernah tersakiti,
Terimakasih kalau aku memang pernah di ujung langit,
Terimakasih semua untuk sosok penampakanmu.
Tapi inilah yang terjadi.
Tolong jangan kembali.
Sekali lagi.
— sejuta lagu cengeng dalam putaran otak —
Afraid?
Tuhan,
ternyata lebih menyenangkan memakai logika
yang selama ini tersimpan rapi di seberang meja setrikaan
karena saya lebih memilih rasa jiwa yang membungkusi nafsu
menuruti apa yang orang anggap sebagai ‘kata hati’
tapi nyatanya tak tersambung dengan akal pikiran yang jelas
letaknya paling atas menutupi ubun-ubun.
Tapi Tuhan,
kenapa sih Kamu bermain-main dengan nasib dan jatuh bangun manusia-Mu?
pelatihan mental sih bener,
tapi ketika saya tercampakkan di dalamnya,
waduh!
pertama seneng,
terus dah biasa,
terakhir malah pengen cepet-cepet menyudahi,
tapi beneran, masih bersyukur koq!
malahan,
aku kepengen lagi.
merasa apa yang dirasa dengan segenap-genapnya jiwa
yang berapa pun itu jumlahnya,
jiwa koq dihitung!
kalo dihitung berarti ada indikasi korban
sementara saya,
*menelan ludah*
tak mau (terlalu) berkorban untuk
mempunyai perasaan itu.
Tuhan,
sungguh yang Maha Adil!
menciptakan suatu keberanian yang kemudian
berbalik arah menjadi ketakutan karena rasa tidak percaya diri
karena penampakan yang Engkau anugerahi ini
ternyata masih ada yang memuji.
basa-basi.
maupun setulus hati.
Ah!
Tuhan,
let me play the fool again.
but don’t let me be one.
Terima kasih karena yang ini telah datang,
Tuhan!
Meski meskipun masih mempertanyakan
Kenapa harus begini lagi?
Ah!
“I’m afraid to fall in love again.”
“Or are you afraid to get hurt?”
“There’s always the possibility, rite?”
“Two sides of a coin, remember that”
Oh Tuhan,
jangan biarkan Minnie Driver nyanyi lagi,
suaranya pas-pasan!
Tapi dasar manusia tukang kritik yah,
akhirnya saya malah humming lagu ini sepanjang malam …
Mungkin, ya mungkin,
Belajar untuk sendiri, meski selama ini kesendirian lah yang membuat hidup lebih berisi …
Child of the wilderness / Born into emptiness /
Learn to be lonely / Learn to find your way in darkness
Who will be there for you / Comfort and care for you /
Learn to be lonely / Learn to be your one companion
Never dreamed out in the world / There are arms to hold you /
You’ve always known / Your hope is on its own
So laugh in your loneliness / Child of the wilderness /
Learn to be lonely / Learn how to love
Life that is lived alone
— alam kembara pikiran lah tempat dimana eksistensimu masih dan akan selalu meraja —
On Being Me.
Semalam aku tersentak ngeliat blognya mas Wisa.
Bukan karena dia mau nutup blognya.
Bukan karena shoutbox nya dia selalu jadi tempat nangkring dan nongkrong jutaan bloggers.
Tapi sedikit banyak tentang komentar dia tentang blog gue, dan blog orang-orang lain.
Mas Wisa udah berbuat apa yang selama ini masih jarang aku kerjain: nguwongke wong. Memanusiakan manusia. To humanize human beings. Dengan cara yang terbuka dan jujur, sesuai dengan kapasitas orang-orang yang disebut tersebut, to some extent until making some people blush with gladness.
Dan semua dilakukan dengan cara yang apa adanya selayaknya seorang manusia yang kebetulan berdarah Jawa.
Aha! Menjadi seorang Jawa.
Aku sendiri lahir tumbuh besar dilingkungan Jawa, walaupun penampakan fisik lebih diwarisi dari sisi bapak yang bukan Jawa. Dari kota dimana interaksi harian menggunakan bahasa Jawa yang banyak orang bilang “kasar!” itu, aku bermain, belajar, ngobrol, misuh-misuh pun pake bahasa Jawa! Ah, siapa sih yang ngga pernah misuh meskipun dalam hati? 🙂
Ibu ku pun berasal dari satu kota di Jawa Tengah yang terkenal dengan kehalusan tata-krama, yang tentu aja berusaha diwariskan ke anak-anaknya dengan cara-cara halus, termasuk persiapan diri kala Lebaran mudik ke kota ini, bertingkah laku teramat hati-hati dengan sanak saudara yang laen.
Sebatas itukah ke-Jawa-an saya?
Sayangnya, iya.
Sampai akhirnya pernah dikala kuliah dulu aku belajar Modern Indonesian Literature, salah satu buku yang beruntung aku dapatkan adalah Para Priyayi-nya Umar Kayam.
Deg!
Buku ini berhasil membuat gue tercengang dan malu, sebagai orang yang ngakunya wong Jowo, tapi dalam tindak-tanduk, kelakuan dan proses pemikiran ngga mencerminkan kebaikan sifat-sifat ke-Jawa-an ini. Dengan bahasa yang indah, mudah dicerna dan mengalir bak riak sungai yang tenang, Umar Kayam membuka mataku tentang kekuatan seorang Jawa menghadapi hidup yang selalu berubah di sekelilingnya, namun dengan ketenangan yang diterjemahkan sebagai kekuatan diri menghadapi segala sesuatunya dengan pasrah dan nrimo namun mampu menempatkan diri di alam dunia ini lah yang membuat gue cuman menunduk, mempertanyakan ke-Jawa-an gue.
Tuh liat, udah mulai “gue” lagi 🙂 Duh makasih deh buat para penggebrak sistem ‘global-village-concept’ dimana semua orang udah ga punya identification on distinctive culture yah, ngomong Jowo koq ono’ gue-elo! :p
Dan tentang kehilangan identitas ini juga yang gue rasakan ama jeng lincah belakangan ini, yang nick chat-nya selalu ber”wanita jawa”. Jadi inget, Anggun si penyanyi kita pernah bilang ke suatu majalah, “I’m proud to be a Javanese woman, she’s the utmost kind of woman above all kinds.”
Diskusi gue ama Imesh tentang wanita Jawa selalu berkisar pada suatu rumusan kalo wanita Jawa berarti wanita penyabar yang dengan segala kelemahlembutannya mampu meluluhlantakkan egoisme pria-pria, mampu mempengaruhi keputusan penting yang diambil oleh siapa pun, dengan segala kewanitaannya, dia menunjukkan sosok diri yang mandiri, kuat menghadapi naek turunnya hidup.
Berat!
Aku lihat ibuku sendiri, ibu rumah tangga yang juga punya usaha kecil-kecilan, pintar, ngga kenal kata capek, pulang pergi dari satu propinsi ke propinsi laen bisa dalam seminggu, tapi tetep merhatiin anak-anaknya dengan baek, ngajarin semua yang perlu diajarin, seorang pengemudi yang baik dan sangat cepat, hahahaha, seorang yang menekankan perlunya sekolah bener dan rajin beribadah, seorang partner buat bapakku yang setia dan sayang.
Bundaku. Meskipun logat Jawa nya tak sehalus kala dia tinggal bersama almarhum nenek dulu karena kelamaan gedein kita semua, tapi dia seorang wanita Jawa yang aku kagumi.
Kalo baca ini Mam, kacang pedes yang terakhir enak, soalnya lebih garing 🙂
Seperti semua tulisanku yang menggantung dan tak pernah terselesaikan, begitulah kali ini.
Aku tetep seorang pria Jawa yang berusaha menggali dan mendalami sisi ke-Jawa-anku.
Cay, Onel, matur nuwun udah jadi sparing partner ngomong Jowo tiap hari di rumah, bikin rumah kita serasa di tanah air beneran.
— maunya nulis diiringi gending Jawa, tapi adanya cuman Carole King yang ‘Will You Love Me Tomorrow’, yo wis lah, daripada ga ada 🙂 —
All I Am.
“You’re one lucky bastard! How you’ve done everything I always dream of, always envision myself to be…”
“Makanya, do something about it donk!”
—
“… dulu kita ngga tau pak, namanya aja sebuah awal …”
“Yang lalu udahlah biarkan berlalu. Malah bagus itu, kalo ngga ada sebuah awal itu, ngga ada apa yang kita omongin sekarang kan? Yang penting, janganlah kamu bunuh apa yang kamu punya …”
—
“2 minggu sesudah kamu.”
—-
“Can you release the tracksheet?”
—
“… more in the mood of go out and chill …”
“8 sounds fine”
—-
“Penampilan itu penting, karena gue suka ngeliat orang rapi bersih …
“To some extent dimana elo ga perlu ngasih porsi berlebih buat hal ini!”
—
“Do … Not … Book … The … Train Ticket!”
—
“Reality? I live in that, considering I’m inside the film-circle, so called.”
—-
“Well, hope the first ‘everything’ with me belong to a fond memory”
—
“Movie marathon next weekend, rite?”
—
“What makes you think that you didn’t know me?”
—
“Apa cuman gue yang masih pecicilan sampe sekarang?”
—
“Heh, dari mana elo liat dia?”
“Dari kamera! Busyet deh elo ya, nyante aja napa!”
—
“Naskah adaptasi sih, tapi isinya Indo banget, cuman butuh 2 orang.”
“Aku dukung!”
—
“Overloaded! Ambitious! Dreamy!”
“Simpen buat nanti!”
… … ….
Aku kesepian.
? . ! .
sms:
jadiin ini alasan knp kamu hrs smgt kerja bsk, coz kerja is just a zit that u can always beat since u’ve got a lot of great things out there 🙂
2317 hours.
2 ice cendol.
1 master.
3 probationary slaves.
3 strawberry yoghurt.
1 budding artist.
1 mango yoghurt.
1 going to resign.
32 days to big gathering.
5 lost wandering souls.
1 cigarette only.
1 truly great appreciator.
0 alcohol.
4 to the West.
1 tagline.
“Jangan bunuh apa yang kamu punya.”
