RSS

Daily Archives: 09/29/2012

If I Forget to Love You …

… then read what I write here.

sometimes, i forget to love you.

not because i fall out of love. after all, how can i, when we once agreed on being in love, and not falling in love, because when you fall in, there’s a chance you can easily fall out?

and not because i have grown tired of you. well, there are days of yearning for absolute mindless freedom, but you know me as a man of mind, thus is it a likely occurrence of me taking such toll without thinking?

actually, i do. or rather, i did. and that’s how i love you.

and now, i forget that you need to be tingled with sweet, loving words.

i forget that you need more than my silent support of catching you from behind when you fall.

i forget that you need more than my quiet persistence of being someone that you come home to.
without asking, without probing, without questioning.

i forget that you need to go out sometimes, often at opposing times when i feel like talking to myself and the four still walls.

at such times, sometimes i forget to love you.

because i have started respecting you, hoping that you trust this union we’ve built.

because i have begun to honor you and your marvelous side of life that i may or may not be apt to fit in.

and still, if sometimes i forget to love you,

remind me again, please.

that’s how our life begins.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 09/29/2012 in Uncategorized

 

Catatan Kecil

Akhir pekan lalu, seusai pesta pernikahan sahabat, saya dan beberapa teman terlibat percakapan menarik.
Di tengah beberapa orang menghapus riasan muka, ganti baju dan sekedar bersantai tengah malam, seorang teman bilang,

“I don’t believe if there’s anyone says “I don’t care about your past, because I only believe in our future!”
To me, when I meet someone, when I make a relationship with someone, I have to know what makes this person who she really is. And a person is defined by her past! I just need to know their past, that’s all. Then I’ll figure out how to deal with that person.”

Kata-kata ini, berikut gaya pengucapan teman saya yang sangat hidup, sudah sukses menyentil saya.
Kebetulan saya pernah menulis sesuatu tentang “investing in your future, rather than dwelling on your past”. Ternyata saya lupa, bahwa bagaimana kita sekarang adalah hasil tempaan masa lalu kita, baik itu mulai dari kecil, remaja, menjadi mahasiswa, atau hasil masa lalu kita dalam hitungan beberapa jam yang lalu.

Saya adalah bentukan mantan-mantan pacar saya.
Selama menjalin hubungan dengan mereka, ada proses belajar dalam diri setiap berinteraksi dengan mereka. Saya merasakan sendiri perubahan dalam bersikap, bertindak, melihat permasalahan, yang sangat mungkin ada sedikit pengaruh atau warisan karakter dari mereka. Mungkin karena itulah saya sempat limbung ketika kehilangan pegangan saat semua hubungan itu berakhir.

Namun saya sadar, bahwa saya tidak boleh mengagungkan masa lalu. Toh mereka yang pernah singgah dan menjadi fokus hari-hari saya tidak akan kembali juga.
Tetapi bagi siapapun yang sedang mencoba hadir, atau akan hadir, mengisi hari-hari dan hati saya, mari kita telaah pelan-pelan.

Saya ada dengan membawa resapan masa lalu saya. Demikian pula dengan kamu.
Semua persamaan dan perbedaan yang ada, mari kita omongkan.
Kalau kamu adalah yang terbaik untuk saya, demikian pula kalau kamu merasakan hal yang sama, maka kita tinggal deal dengan takdir.
Selebihnya, saya lebih suka menjalani apa adanya.

Yang jelas, saya sadar bahwa dalam kehidupan nyata, proses penghapusan memori seperti dalam film Eternal Sunshine of the Spotless Mind tidak akan pernah terjadi.
Rasa sakit, senang, pedih, gembira tentang masa lalu yang hadir dalam kehidupan saya di masa sekarang, semuanya adalah bagian yang tidak mungkin hilang.

Dalam keadaan apapun, saya harus terus bernafas, make a living dan melanjutkan hidup, yang semoga bisa jadi lebih baik.

Saya ingin punya kisah survival saya tersendiri.
Saya bukan teman-teman saya, yang saya kagumi, yang kisah pertahanan hidupnya acap kali membuat saya merasa belum menjadi apa-apa. Untuk itulah saya mengagumi mereka.

Dan untuk itulah saya harus meyakinkan diri bahwa saya akan terus baik-baik saja, meskipun keyakinan itu harus keluar dari mata yang berkaca-kaca dan helaan nafas yang berat.

“Because life goes on, dear.”

 
2 Comments

Posted by on 09/29/2012 in Bahasa Indonesia