RSS

emERgency

16 Feb

You see, I don’t really proclaim myself as a TV-junkie like Tobi or perhaps anyone else who can indulge in front of that goggle box. Pretty much my interest on TV has diminished along with the passing of those digestive comedy series, particularly Friends and Sex and the City, the only two series in which you can consider myself as a faithful follower. Well, there is Will & Grace that still gives me good, spontaneous laugh, yet I still can’t really commit some half-an-hour spare time in a day to sit properly and indulge in the world of wackiness from those foursome.

Tapi malem ini, setelah bermaksud sekedar leyeh-leyeh di kasur sambil flipping through TV channels, akhirnya aku terpaku dan ngga ganti-ganti Channel 5 yang ternyata tiap Rabu malem muter salah satu drama televisi, yang IMHO (in my honest opinion), adalah salah satu drama televisi terbaik yang setelah masuk hitungan satu dekade lebih, tetep bisa mempertahankan kualitas cerita. Setiap minggunya. Setiap ganti musim atau season nya.

The faithful medical drama goes by the name of E.R..

Seperti layaknya Friends juga, malem ini aku baru nyadar kalo beberapa tahun terakhir ini aku tumbuh dan berkembang bersama film seri E.R. ini. Walaupun ngga ngikutin tiap minggunya, tapi suasana rumah sakit umum di Boston (ato Chicago yah, walaupun cuman bikinan studio ini juga!) yang selalu berantakan dan rame ama pasien-pasien dari kalangan menengah ke bawah, demikian juga ama dokter-dokternya yang cekatan meskipun hidup pas-pasan dengan segala intrik kehidupan pribadi mereka, sempet membuat aku kepengen jadi dokter beneran! Apa daya, nilai Biologi pas-pasan, dan don’t even start on Kimia apalagi Fisika! Hahahaha!
Yah, nasib emang ga ngijinin saya jadi dokter beneran, tapi kalo jadi dokter di serial tipi, mungkin masih ada kesempatan *dreamy mode on*.

Balik lagi ke E.R., satu hal yang bikin kita, ato tepatnya saya, sempat ketagihan nonton serial ini, mungkin karena Michael Crichton (idolanya mas Q ini) sangat tau dan teliti waktu nulis karakter masing-masing, yang dibikin sedetail mungkin dengan segala permasalahan hidup mereka yang koq kayanya kerasa nyambung ama penonton. Apalagi being underpaid and overworked macam dokter-dokter ini, tentunya emang achingly real buat kaum pekerja, macem saya mungkin? *menguik diri sendiri mode on*.
Yang jelas, meskipun George Clooney ama Julianna Margulies sudah pergi, demikian juga ama si botak Anthony Edwards yang kematiannya sempet bikin penonton televisi di Amrik mengharu biru, cerita perjuangan dokter-dokter ini ngga pernah mati. Ada Noah Wyle yang dulu pernah make obat-obatan sampe sekarang bisa sembuh lagi, Maura Tierney yang selalu bermasalah ama ibunya, Ming-Na yang jadi single mother dari hasil hubungannya dengan seorang pria Afrika-Amerika, masih ada Goran Visnjic, Laura Innes, dan tentunya para bintang tamu yang selalu ga jadi tukang numpang lewat doang seperti di kebanyakan sitkom, tapi kehadiran William H. Macy atau Don Cheadle sekarang selalu bisa diintegrasikan dengan baik ke dalam cerita.

Akhirnya, dokter-dokter ini emang ngga selalu berhasil nyelametin nyawa para pasiennya, dan sering kita liat mereka mojok buat nangis, sementara mereka juga harus keliatan tenang dan tabah di depan keluarga korban.
Seperti layaknya juga kita, biar lagi ngga enak suasana hati, kadang masih juga harus nyenengin orang laen, dan nonton acara tipi yang uplifting mood seperti ini bisa bikin pikiran jadi seger lagi.

Kesimpulannya, kalo ada yang punya dvd-nya, mbok ya dipinjemin tho …

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 02/16/2005 in Bahasa Indonesia

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: